Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui bahwa batu bara Indonesia masih menghadapi tantangan dalam bersaing di pasar internasional. Hal ini disebabkan oleh dominasi ekspor batu bara kalori rendah, sementara permintaan global lebih condong pada batu bara berkalori tinggi. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba ESDM, Surya Herjuna, mengungkapkan bahwa cadangan batu bara Indonesia mencapai 31 miliar ton, dengan potensi mencapai 93 miliar ton. Namun, sekitar 73% dari cadangan tersebut adalah batu bara kalori rendah, hanya 5% yang berkalori tinggi, dan sisanya 8% adalah kalori menengah.
Surya menegaskan bahwa pemerintah sedang berupaya mengoptimalkan sumber daya batu bara yang ada agar lebih kompetitif di pasar internasional. Salah satu langkah yang diambil adalah menata kebutuhan batu bara untuk pembangkit dalam negeri yang memerlukan batu bara kalori menengah hingga tinggi. “Kita sudah butuh kalori tinggi, tetapi di pasar dunia juga kalori menengah dan tinggi sangat diminati, meskipun kalori rendah juga banyak diminta,” ujar Surya dalam acara Coalindo Coal Conference 2025.
Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia saat ini masih didominasi oleh China dan India. Namun, produksi batu bara Indonesia belum sebanding dengan kapasitas produksi negara-negara tersebut. China, misalnya, mampu memproduksi sekitar 4 miliar ton batu bara per tahun, sedangkan ekspor Indonesia ke China hanya sekitar 120 juta ton. “Penguasaan pasar kita di Asia sebenarnya agak semu,” ungkap Surya. Oleh karena itu, Kementerian ESDM sedang mencari solusi agar batu bara Indonesia dapat kembali bersaing di pasar internasional dengan harga yang lebih kompetitif.
Kementerian ESDM mencatat bahwa total produksi batu bara Indonesia sepanjang 2024 mencapai 836 juta ton, melampaui target yang ditetapkan sebesar 710 juta ton. Dari jumlah tersebut, 233 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), yang juga melebihi target DMO sebesar 220 juta ton. Sementara itu, ekspor batu bara mencapai 555 juta ton, meningkat dibandingkan dengan realisasi 2023 sebesar 518 juta ton. Untuk tahun 2025, target produksi batu bara ditetapkan sebanyak 735 juta ton.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kinerja ekspor batu bara sepanjang Januari hingga September 2025 mengalami penurunan sebesar 20,85% ke level US$17,94 miliar. Penurunan ini juga diikuti oleh susutnya volume pengiriman batu bara sebesar 4,74% ke level 285,23 juta ton. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh kondisi makroekonomi global yang tidak menentu.
Di tengah tantangan tersebut, harga batu bara di pasar global menunjukkan tren kenaikan. Pada Selasa (4/11/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$110,85 per ton, naik 1,14% dari hari sebelumnya. Harga batu bara telah menguat selama tiga hari berturut-turut, dengan total kenaikan sebesar 6,69%.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Indonesia perlu terus berupaya meningkatkan daya saing batu bara di pasar internasional. Optimalisasi sumber daya dan penyesuaian strategi ekspor menjadi kunci untuk menghadapi persaingan global. Sementara itu, pergerakan harga batu bara yang positif di pasar global memberikan harapan bagi industri batu bara Indonesia untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
