Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah berfokus pada percepatan pelaksanaan proyek besar yang bertujuan menggantikan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) dengan gas alternatif bernama Dimethyl Ether (DME). Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah menargetkan produksi massal DME dapat dimulai pada tahun 2027. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, dengan memanfaatkan bahan baku yang sepenuhnya bersumber dari dalam negeri.
Menurut perhitungan pemerintah, penggunaan DME dapat menekan impor LPG hingga 1 juta ton setiap tahun. Dampaknya, penghematan devisa impor diperkirakan mencapai sekitar Rp 9,1 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini juga berpotensi menarik investasi baru senilai 2,1 miliar dollar AS. Program pengembangan DME ini bukanlah proyek baru, melainkan telah tercantum dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 yang ditandatangani pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani menyebutkan bahwa pemerintah akan menugasi BUMN-BUMN yang selama ini mengelola tambang batu bara untuk memproduksi DME secara massal. Jika tidak ada BUMN yang dapat memenuhi kebutuhan pasokan batu bara bagi proyek tersebut, pemerintah membuka opsi untuk menggandeng perusahaan batu bara lain di luar BUMN. Pemerintah juga berencana meninjau kembali sejumlah konsesi batu bara milik BUMN yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu proyek strategis yang tengah digarap adalah hilirisasi batu bara menjadi DME di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional. Program tersebut juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang menekankan pentingnya swasembada dan ketahanan energi. Pemerintah menargetkan peralihan penuh dari LPG ke DME dapat terealisasi pada tahun 2040.
Selain memperkokoh ketahanan energi, proyek ini diharapkan mampu mendorong transformasi ekonomi di Kalimantan Timur. Daerah tersebut selama ini berkontribusi besar terhadap produksi batu bara nasional, yakni sekitar 42,8 persen. Pemerintah melalui Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi telah menetapkan proyek DME Kutai Timur sebagai salah satu dari 18 proyek prioritas nasional. Nilai investasi proyek konversi LPG ke DME tersebut ditaksir mencapai 10,25 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp 164 triliun.
CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengingatkan bahwa proyek DME tidak boleh kembali terulang kegagalannya. DME sebelumnya pernah dicoba dijalankan, bahkan sempat groundbreaking, namun kemudian berhenti. Rosan menekankan pentingnya menjalankan proyek gas DME dengan teknologi terbaru dan paling efisien agar dapat berjalan secara maksimal dan sesuai dengan target investasi.
DME adalah sebutan lain untuk gas batubara yang diarahkan terutama sebagai substitusi penggunaan LPG. Proyek gasifikasi batubara ini sangat vital bagi perekonomian Indonesia, karena 75 persen penggunaan LPG di dalam negeri berasal dari impor. Sementara gas batubara sepenuhnya berasal dari dalam negeri. Selain itu, harga DME juga jauh lebih murah dibandingkan dengan LPG. Karakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG, sehingga dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada saat ini.
DME memiliki kelebihan lain, yaitu dapat diproduksi dari berbagai sumber energi, termasuk biomassa, limbah, dan Coal Bed Methane (CBM). Namun, saat ini batu bara kalori rendah dinilai sebagai bahan baku yang paling ideal untuk pengembangan gas DME. DME memiliki kandungan panas sebesar 7.749 Kcal/Kg, sementara LPG memiliki kandungan panas 12.076 Kcal/Kg. Meskipun begitu, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi, sehingga dalam perbandingan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 berbanding 1,6.
Pemilihan gasifikasi batubara untuk substitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan. DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen. Keunggulan lainnya dari DME adalah kualitas nyala api yang dihasilkan lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur. DME adalah senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 yang berwujud gas, sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG.
Proyek DME yang tengah digalakkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan impor LPG dan memperkuat kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri dan teknologi terbaru, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi, lingkungan, dan ketahanan energi Indonesia. Dukungan dari berbagai pihak dan pelaksanaan yang efektif menjadi kunci keberhasilan proyek ini dalam mencapai target yang telah ditetapkan.
