Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan bahwa proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan memulai tahap konstruksi pada tahun 2026. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG).
Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi LPG domestik diperkirakan akan mencapai 10 juta ton pada tahun 2026, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,4 juta ton per tahun. “Defisit kita nanti sekitar 8,6 juta ton. Oleh karena itu, kita harus mencari substitusi impor, dan solusinya adalah DME,” ujar Bahlil saat ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (11/11/2025).
Proyek DME ini telah dibahas dalam rapat antara Presiden Prabowo Subianto dan CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani. Bahlil menyebutkan bahwa keputusan mengenai lokasi proyek DME akan ditetapkan bulan depan. “Jika Desember sudah diputuskan, maka insya Allah proses konstruksinya akan dimulai pada 2026,” tambahnya.
Sebelumnya, Kementerian ESDM memastikan bahwa PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) telah mengajukan impor LPG sebesar 1,2 juta ton untuk digunakan sebagai bahan baku pengolahan petrokimia. Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa pasokan LPG untuk pabrik petrokimia tersebut akan berasal dari luar negeri, sehingga tidak akan mempengaruhi pasokan LPG di dalam negeri.
Laode juga menegaskan bahwa pasokan LPG untuk pabrik petrokimia tersebut belum direncanakan untuk memanfaatkan gasifikasi batu bara menjadi DME, yang rencananya akan mulai dibangun pada tahun depan. “Saat ini kita fokus pada tahap awal. Lotte sedang memesan impor untuk LPG,” tegasnya.
Pada tahun 2024, impor LPG Indonesia mencapai 6,89 juta ton dengan nilai US$3,78 miliar. Sebagian besar impor LPG berasal dari Amerika Serikat, mencapai 3,94 juta ton dengan nilai US$2,03 miliar. Selain AS, Indonesia juga mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, hingga Algeria.
Pabrik petrokimia new ethylene project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) baru saja diresmikan di Cilegon, Banten, pada Kamis (6/11/2025). Pabrik ini diklaim dapat mengurangi impor minyak dan gas (migas) hingga US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,42 triliun. Pabrik tersebut mampu menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun, dengan US$1,4 miliar di antaranya merupakan substitusi impor dan US$600 juta berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia.
Proyek yang digagas oleh perusahaan asal Korea Selatan ini memiliki nilai investasi sebesar US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun. Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (KTA), dengan tambahan LPG sebesar 0%—50% sebagai bahan pendukung.
Dengan dimulainya proyek gasifikasi batu bara menjadi DME, Indonesia berharap dapat mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Proyek ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan industri petrokimia di Indonesia.
