Harga aluminium terus mengalami kenaikan untuk hari keempat berturut-turut, dipicu oleh kekhawatiran yang berlanjut terhadap pasokan global logam nonferrous yang paling banyak digunakan ini. Kontrak berjangka aluminium di London saat ini diperdagangkan mendekati US$2.880 per ton, hanya sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga tahun yang tercapai pekan lalu.
Kenaikan harga ini terutama disebabkan oleh kekhawatiran bahwa sejumlah smelter di China, yang menyumbang lebih dari separuh pasokan global, kini mendekati batas kapasitas produksi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sepanjang tahun ini, aluminium telah menguat sebesar 13%, menjadikannya logam dengan kinerja terbaik ketiga di London Metal Exchange (LME) setelah tembaga dan timah.
Pasar global terus mengalami pengetatan, dengan produksi di Eropa terhambat oleh keterbatasan pasokan listrik. Sementara itu, harga aluminium di Amerika Serikat mencetak rekor baru akibat penarikan stok yang dipicu oleh kebijakan tarif perdagangan. Pada pukul 10.34 waktu Shanghai, harga aluminium di LME tercatat naik 0,2% menjadi US$2.880 per ton.
Sementara itu, pergerakan logam dasar lainnya menunjukkan variasi. Harga seng dan nikel mengalami pelemahan, sedangkan tembaga justru menguat. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar logam yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan perdagangan dan kondisi ekonomi global.
Kenaikan harga aluminium yang berkelanjutan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang semakin ketat. Dengan smelter di China yang mendekati batas kapasitas produksi dan tantangan pasokan di Eropa dan Amerika Serikat, pasar logam nonferrous ini diperkirakan akan terus mengalami volatilitas dalam waktu dekat. Para pelaku pasar dan investor diharapkan untuk terus memantau perkembangan ini guna mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
