Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, secara tegas membantah tuduhan yang dilontarkan oleh aktivis lingkungan mengenai tambang emas Martabe yang dimiliki oleh PT United Tractors Tbk. (UNTR) melalui PT Agincourt Resources (PTAR). Tuduhan tersebut menyatakan bahwa aktivitas tambang tersebut memperparah banjir bandang yang melanda Sumatra Utara. Yuliot menegaskan bahwa wilayah kerja tambang emas Martabe terletak jauh dari lokasi banjir bandang.
Sejalan dengan pernyataan Yuliot, PT Agincourt Resources juga membantah tuduhan tersebut. Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, menjelaskan bahwa operasional tambang telah mencakup upaya mitigasi banjir dan memastikan konservasi hutan serta keanekaragaman hayati di area tambang dan sekitarnya. Katarina menambahkan bahwa lokasi banjir bandang di Desa Garoga berada di daerah aliran sungai (DAS) Garoga yang berbeda dan tidak terhubung dengan lokasi PTAR yang beroperasi di DAS Aek Pahu.
Yuliot menyatakan bahwa Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, akan segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi banjir pada Selasa (2/12/2025) untuk memastikan percepatan pemulihan pasokan energi di wilayah terdampak. “Ini dicek di lapangan. Besok Pak Menteri akan lihat dari atas besok,” ucap Yuliot. Sementara itu, Katarina menyebutkan bahwa berdasarkan pemantauan perusahaan, banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi merupakan dampak dari cuaca ekstrem yang dipicu oleh siklon tropis Senyar.
Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Sumut mencatat bahwa terdapat 8 kabupaten/kota di Sumut yang terdampak banjir bandang dan longsor, dengan banjir terparah terjadi di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Walhi menyatakan bahwa bencana tersebut paling parah melanda wilayah yang berada di ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru, salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumut. Berdasarkan data citra satelit pada 2025, Walhi mencatat pembukaan hutan di areal Harangan Tapanuli, yakni di Batang Toru, Tapanuli Selatan, sangat masif terjadi.
Tambang emas Martabe yang dimiliki oleh PTAR di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, telah beroperasi sejak 2012 setelah konstruksi dimulai pada 2008. Dalam situs resminya, 95% saham PTAR tercatat dimiliki oleh PT Danusa Tambang Nusantara, anak perusahaan PT Pamapersada Nusantara (Pama) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR). Total area konsesi yang mencakup tambang emas Martabe tercantum dalam kontrak karya 30 tahun generasi keenam antara PTAR dan pemerintah.
Area operasional tambang emas Martabe dalam konsesi tersebut terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas area 509 ha per Januari 2022. PTAR mengoperasikan tiga pit terbuka: Pit Rambing Joring yang dibuka pada 2017, Pit Barani dibuka pada 2016, dan Pit Purnama yang dibuka pada 2011. Perusahaan juga mengoperasikan pabrik pengolahan bijih emas dengan teknologi carbon-in-leach (CIL) dan fasilitas prasarana dukungan lainnya.
Kementerian ESDM dan PT Agincourt Resources menegaskan komitmen mereka untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas tambang dan siap bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi bencana banjir di Sumatra Utara. Meskipun ada tuduhan yang mengaitkan aktivitas tambang dengan bencana tersebut, PTAR berupaya untuk memberikan klarifikasi dan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Dengan adanya investigasi lebih lanjut, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini.
