Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$2,81 miliar atau sekitar Rp46,82 triliun pada Oktober 2025, dengan asumsi kurs Rp16.658 per dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,58% dibandingkan dengan belanja bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$2,63 miliar. Menurut BPS, kenaikan ini terutama disebabkan oleh lonjakan belanja minyak mentah dan hasil minyak pada bulan tersebut.
Pada Oktober 2025, nilai impor minyak mentah mengalami penguatan sebesar 4,16% mencapai US$815,9 juta. Sementara itu, impor hasil minyak melonjak 7,60% hingga mencapai US$1,9 miliar. Meskipun demikian, jika dilihat secara year-to-date, nilai impor migas dari Januari hingga Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 12,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total nilai mencapai US$26,55 miliar. Rincian impor tersebut mencakup minyak mentah sebesar US$7,57 miliar dan hasil minyak sebesar US$18,98 miliar.
Di sisi lain, nilai ekspor migas Indonesia mengalami penurunan sebesar 16,11% menjadi US$10,93 miliar sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Penurunan ini disebabkan oleh koreksi ekspor minyak mentah yang turun 30,31% menjadi US$1,2 miliar, serta ekspor hasil minyak yang turun 7,12% ke level US$3,5 miliar. Ekspor gas alam juga mengalami penurunan sebesar 17,29% menjadi US$6,11 miliar.
Dinamika impor migas ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik, yang menyebabkan stok bensin di jaringan SPBU swasta menipis. Pemerintah tahun ini mempersingkat durasi izin impor BBM oleh badan usaha swasta menjadi 6 bulan dari biasanya 1 tahun. Dalam periode singkat tersebut, SPBU swasta diberikan kuota impor 2025 sebanyak 10% lebih banyak dari realisasi tahun lalu.
Seiring dengan tingginya permintaan BBM di SPBU swasta, Kementerian ESDM menolak memberikan tambahan rekomendasi kuota impor, yang menyebabkan gangguan pasokan di hampir seluruh jaringan SPBU swasta. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kemudian mengambil kebijakan agar pemenuhan kebutuhan BBM untuk SPBU swasta dilakukan oleh Pertamina melalui impor dalam format base fuel, atau BBM dasaran tanpa campuran bahan aditif.
Operator SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo Energy telah mulai menjual kembali BBM kepada pelanggan setelah sepakat untuk membeli BBM dasaran dari Pertamina Patra Niaga. Sementara itu, pengadaan BBM dasaran untuk Shell Indonesia masih dalam tahap negosiasi. Ingrid Siburian, President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia, menyatakan bahwa negosiasi dengan Pertamina Patra Niaga telah memasuki tahap akhir. “Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa saat ini pembahasan B2B terkait dengan pasokan impor base fuel dari Pertamina Patra Niaga memasuki tahap akhir,” kata Ingrid kepada Bloomberg Technoz, Rabu (26/11/2025).
Kenaikan impor migas pada Oktober 2025 mencerminkan dinamika pasar energi domestik yang dipengaruhi oleh permintaan tinggi dan kebijakan pemerintah terkait impor BBM. Meskipun ada tantangan dalam distribusi dan pasokan, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dan operator SPBU diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan energi di Indonesia.
