Harga minyak global mengalami kenaikan setelah Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mengonfirmasi akan melanjutkan rencana untuk menunda kenaikan produksi selama kuartal pertama 2026. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran akan kelebihan pasokan di pasar minyak global. Kelompok produsen yang dipimpin oleh Arab Saudi ini menegaskan kembali komitmen mereka untuk menghentikan produksi selama tiga bulan, yang pertama kali diumumkan pada awal bulan lalu. Langkah ini mencerminkan kondisi pasar musiman yang melemah.
Selain keputusan OPEC+, para pelaku pasar juga mempertimbangkan dampak dari retorika Presiden Donald Trump terkait Venezuela. Pada Sabtu, Trump meningkatkan tekanan dengan memperingatkan maskapai penerbangan untuk mempertimbangkan menutup ruang udara di atas dan sekitar Venezuela. Meskipun ancaman tersebut diredam pada hari Minggu, kehadiran pasukan AS di wilayah tersebut membuat pasar tetap waspada.
Harga minyak Brent diperdagangkan di atas US$63 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$60. Brent untuk pengiriman Februari naik 1,6% menjadi US$63,35 per barel pada pukul 07.25 di Singapura. Sementara itu, WTI untuk pengiriman Januari juga naik 1,6% menjadi US$59,49 per barel. Kenaikan ini terjadi meskipun harga minyak mencatat penurunan bulanan keempat berturut-turut pada November, akibat ekspektasi surplus yang membengkak membebani prospek pasar.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa kelebihan pasokan minyak akan memecahkan rekor pada 2026. Sementara itu, JPMorgan Chase & Co memproyeksikan harga minyak mentah akan jatuh mendekati US$50 per barel. Namun, ketegangan geopolitik yang terjadi sepanjang tahun ini seringkali menopang harga minyak.
Volume perdagangan WTI cukup tinggi di awal sesi Asia setelah gangguan berjam-jam pada platform perdagangan Chicago Mercantile Exchange mengguncang pasar global pada Jumat, saat AS merayakan Thanksgiving. Gangguan ini menambah ketidakpastian di pasar, meskipun harga minyak menunjukkan tren kenaikan.
Keputusan OPEC+ untuk menunda kenaikan produksi minyak di tengah ketegangan geopolitik dan ekspektasi kelebihan pasokan menunjukkan kehati-hatian dalam menghadapi dinamika pasar yang kompleks. Meskipun harga minyak mengalami kenaikan, prospek jangka panjang tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan geopolitik dan kondisi pasar global. Dengan demikian, para pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan ini untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi tantangan di pasar minyak.
