PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan bahwa penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis bensin RON 90 atau Pertalite dengan harga mencapai Rp30.000 per liter di Aceh Tenggara dilakukan oleh penjual eceran tak resmi. Penjualan ini tidak terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina, melainkan di luar jalur resmi.
Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli BBM secara berlebihan. Ia juga menekankan agar masyarakat tidak menjual kembali BBM dengan harga yang lebih tinggi, karena hal ini dapat memperburuk situasi pasokan yang sudah terbatas.
“BBM tidak akan cukup kalau kemudian terjadi panic buying, apalagi kemudian dijual kembali dengan harga tinggi untuk memanfaatkan kondisi bencana. Sementara masyarakat perlu bantuan dan BBM untuk aktivitas, oknum justru mencari untung,” ujar Roberth saat dikonfirmasi oleh Bloomberg Technoz, Selasa (2/12/2025).
Menanggapi situasi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk menerjunkan tim guna memeriksa harga BBM bersubsidi jenis bensin RON 90, atau Pertalite, yang dilaporkan mencapai Rp30.000 per liter di Aceh Tenggara. Kabar ini beredar luas di media sosial, menggambarkan situasi stok bensin yang menipis dan antrean panjang di SPBU Pertamina.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa pihaknya akan segera mengirim tim ke tiga provinsi terdampak banjir untuk mempercepat pemulihan pasokan energi. “Saya enggak bicara angka dahulu ya. Akan tetapi, sekarang, tadi baru rapat dengan Pak Menteri, kita ditugaskan semua terjun,” kata Laode kepada awak media, Senin (1/12/2025).
Akun X @Aceh mengklaim adanya krisis BBM di Aceh Tenggara, dengan antrean panjang di SPBU milik PT Pertamina (Persero) dan harga Pertalite yang mencapai Rp30.000 per liter. Situasi ini menambah tekanan pada masyarakat yang sudah terdampak oleh bencana banjir.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan bahwa pemulihan pasokan BBM di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh terkendala oleh jalan penghubung yang terputus akibat banjir. Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menyatakan bahwa pemulihan dilakukan dengan langkah alternatif dan darurat melalui terminal BBM terdekat untuk daerah yang terputus akses jalannya.
Salah satu langkah yang diambil adalah alih suplai distribusi dari terminal BBM yang dapat dijangkau untuk memenuhi kebutuhan daerah lainnya. “BPH Migas terus memastikan pemulihan distribusi BBM di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berjalan lancar. Masyarakat diharapkan tetap membeli BBM sesuai kebutuhan agar proses normalisasi berjalan dengan baik,” kata Fathul dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025).
Situasi krisis BBM di Aceh Tenggara menuntut perhatian serius dari berbagai pihak. Pertamina dan Kementerian ESDM berupaya untuk mengatasi masalah distribusi dan memastikan pasokan BBM tetap tersedia bagi masyarakat yang membutuhkan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan menjual kembali BBM dengan harga tinggi, agar proses pemulihan dapat berjalan dengan lancar dan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi.
