Kementerian Keuangan menegaskan harga batu bara khusus wajib pasok domestik (DMO) tetap dipertahankan sejak 2018. Kebijakan ini bertujuan menjaga anggaran subsidi energi agar tidak membengkak.
Analis Kebijakan Senior Kemenkeu, Robert, menjelaskan jika harga DMO dilepas ke harga pasar, biaya listrik masyarakat berpotensi naik signifikan sehingga pemerintah harus menambah subsidi kelistrikan. “Kalau kita lepas DMO agar harga listrik tidak naik, pemerintah harus menambah subsidi lebih dari Rp22 triliun,” ujar Robert dalam diskusi IESR di Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025).
Robert menambahkan, pada 2024 anggaran subsidi kelistrikan telah mencapai Rp75 triliun. Jika harga DMO disesuaikan dengan harga pasar rata-rata US$121,5 per ton, subsidi listrik bisa membengkak hingga Rp100 triliun.
Pemerintah sebelumnya berencana menerapkan skema Mitra Instansi Pengelola (MIP) yang memungkinkan pengusaha batu bara menjual ke PLN menggunakan harga pasar, dengan kewajiban membayar dana kompensasi untuk membantu menahan tarif listrik. Namun, skema ini belum terealisasi. “Uang itu nantinya digunakan agar PLN tidak menaikkan harga jual listrik. Cuman entah kenapa itu tidak selesai,” jelas Robert.
Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) sebelumnya meminta Kementerian ESDM mengkaji ulang harga batu bara DMO. Direktur Eksekutif IMA, Hendra Sinadia, mengatakan harga DMO untuk sektor kelistrikan US$70/ton dan industri semen serta pupuk US$90/ton, belum disesuaikan sejak 2018. Padahal biaya produksi pertambangan batu bara terus meningkat.
Hendra menegaskan pengusaha sudah lama meminta revisi harga DMO, namun belum ada tindak lanjut dari pemerintah. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan biaya produksi agar harga DMO tetap proporsional.
Revisi harga DMO diharapkan seiring rencana pemerintah memperlebar porsi DMO dan memangkas produksi batu bara pada 2026.Kebijakan mempertahankan harga batu bara DMO dinilai strategis untuk menjaga keberlanjutan APBN dan subsidi listrik, meski di sisi lain industri menuntut penyesuaian harga agar sesuai dengan biaya produksi yang meningkat.
