
Harga batu bara global mencatatkan tren positif dengan mengalami penguatan selama dua hari beruntun, yang dipicu oleh sentimen kebijakan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pasar merespons positif sikap politik Trump yang dikenal sangat mendukung penggunaan energi fosil dan berencana melonggarkan berbagai regulasi lingkungan yang selama ini membatasi industri pertambangan. Ekspektasi akan kembali bergairahnya penggunaan batu bara di Amerika Serikat memberikan suntikan kepercayaan diri bagi para pelaku pasar komoditas dunia.
Kenaikan harga ini mencerminkan optimisme bahwa permintaan batu bara akan tetap stabil atau bahkan meningkat di bawah kepemimpinan Trump. Kebijakan yang pro-tambang dinilai akan mengurangi tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mendorong produksi domestik AS, yang secara tidak langsung memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di level internasional. Para investor melihat perubahan arah kebijakan energi di Negeri Paman Sam ini sebagai katalis kuat yang mampu menahan laju penurunan harga yang sempat terjadi sebelumnya.
Meskipun tren kenaikan ini disambut baik oleh negara-negara produsen, para analis tetap mengingatkan adanya faktor lain yang perlu diperhatikan, seperti kondisi ekonomi China dan dinamika pasokan dari negara produsen besar lainnya. Namun, untuk saat ini, “efek Trump” menjadi faktor dominan yang menggerakkan sentimen pasar. Dukungan politik yang nyata terhadap industri batu bara dianggap memberikan kepastian jangka pendek bagi sektor yang tengah menghadapi tantangan transisi energi global.
Penguatan harga selama dua hari terakhir ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perubahan arah politik di negara dengan kekuatan ekonomi besar. Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati implementasi nyata dari janji-janji kampanye Trump terkait energi primer ini, karena akan sangat menentukan apakah tren kenaikan harga ini bersifat sementara atau akan bertahan dalam jangka panjang.
