
Sejumlah pelaku usaha kuliner di Medan, Sumatera Utara, mulai beralih menggunakan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber energi utama untuk kegiatan memasak mereka. Penggunaan gas bumi terkompresi ini terbukti memberikan efisiensi yang signifikan dibandingkan dengan penggunaan LPG (Liquefied Petroleum Gas). Berdasarkan testimoni pengusaha restoran di wilayah tersebut, transisi ke CNG mampu menekan biaya bahan bakar hingga 20 persen, yang berdampak langsung pada penghematan pengeluaran operasional bulanan.
Selain faktor ekonomi, penggunaan CNG juga dinilai lebih praktis dan stabil dalam mendukung aktivitas dapur yang memiliki intensitas tinggi. Suplai gas yang lebih konsisten memungkinkan proses memasak menjadi lebih efektif. Hal ini menjadi solusi bagi para pemilik usaha yang ingin meningkatkan margin keuntungan di tengah fluktuasi harga komoditas energi lainnya. Penggunaan CNG juga dianggap lebih ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.
Penyaluran CNG ke sektor komersial seperti restoran ini didukung oleh infrastruktur distribusi yang terus dikembangkan oleh pihak terkait untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Dengan sistem instalasi yang aman dan terstandarisasi, para pengusaha tidak perlu khawatir mengenai aspek keselamatan dalam penggunaan gas bumi ini. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong diversifikasi energi dan optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik untuk sektor produktif.
Keberhasilan restoran di Medan dalam menghemat biaya hingga 20 persen melalui penggunaan CNG diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM dan industri kuliner lainnya untuk beralih ke energi yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.
