Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa sektor pertambangan mengalami perlambatan signifikan pada kuartal III-2025. Hal ini terutama disebabkan oleh koreksi ekspor batu bara dan penangguhan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) di tambang Grasberg. Menurut data BPS, pertumbuhan industri pertambangan terkoreksi sebesar 1,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 8,51%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan bahwa kondisi kahar yang dialami Freeport menyebabkan penurunan produksi. “Freeport kemarin ada kondisi kahar yang menyebabkan penurunan produksi,” ujarnya dalam rilis pertumbuhan ekonomi secara daring, Rabu (5/11/2025).
Operasi tambang PTFI di Grasberg mengalami penangguhan sejak September 2025, yang berdampak pada kinerja ekspor bijih logam yang turun 3,19%. Penangguhan ini juga mempengaruhi pasokan tembaga ke smelter katoda tembaga di Gresik, Jawa Timur, yang hingga kini masih terhenti. VP Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, menyatakan bahwa perusahaan tengah melakukan perawatan dan evaluasi untuk memastikan keselamatan dan kesiapan tambang sebelum kembali beroperasi.
Katri menambahkan bahwa insiden longsoran material basah di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave memaksa PTFI untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan operasional di tambang tersebut. “Sejak terjadinya insiden luncuran material basah di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, hingga saat ini PT Freeport Indonesia masih menghentikan sementara seluruh kegiatan operasional di tambang bawah tanah,” jelasnya.
Selain penangguhan operasi Freeport, sektor tambang batu bara juga mengalami koreksi signifikan sebesar 7,29% pada kuartal III-2025. Edy Mahmud menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh melemahnya permintaan batu bara di pasar ekspor sejak awal tahun. “Karena penurunan permintaan di pasar global, jadi batu bara kalau kita lihat data ekspor juga kontraksi,” tuturnya.
Kinerja ekspor batu bara sepanjang Januari-September 2025 mencatat penurunan 20,85% ke level US$17,94 miliar atau sekitar Rp298,79 triliun, jauh di bawah capaian tahun sebelumnya yang mencapai US$22,67 miliar.
Meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan, BPS melaporkan bahwa industri logam dasar dalam sektor pengolahan tumbuh signifikan secara tahunan. Pertumbuhan ini mencapai 18,62%, sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja. “Sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja,” kata Edy.
PTFI memperkirakan bahwa tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV 2025, sementara pengembalian operasi bertahap tambang GBC dijadwalkan pada paruh pertama 2026. Namun, penjualan tembaga dan emas PTFI diperkirakan akan terbatas pada kuartal IV-2025, jauh di bawah estimasi sebelumnya.
Pembukaan kembali kegiatan operasi GBC akan dimulai di tiga blok produksi, yaitu PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026, dan PB1C menyusul pada 2027.
Perlambatan industri tambang yang disebabkan oleh penangguhan operasi Freeport dan koreksi ekspor batu bara menimbulkan tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, pertumbuhan signifikan industri logam dasar menunjukkan adanya peluang yang dapat dimanfaatkan. Dukungan kebijakan yang tepat dan upaya pemulihan operasi tambang diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan ini dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil di masa depan.
