Sejumlah perusahaan migas besar asal China, seperti Sinopec Group, China National Petroleum Corporation (CNPC), dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), tengah menjajaki peluang kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan proyek pengurasan minyak tingkat lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan produksi minyak di lapangan-lapangan tua milik Pertamina.
Pertamina telah membuka ruang kerja sama operasi (KSO) untuk mengembangkan pendekatan EOR skala besar. Beberapa lapangan yang menjadi fokus adalah Rantau, Jirak, Tanjung, Pamusian, dan Zulu. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menyatakan bahwa Pertamina dan Sinopec telah melanjutkan kajian teknis untuk Lapangan Tanjung, dengan Sinopec melakukan kajian subsurface.
SKK Migas telah meminta Pertamina dan Sinopec untuk segera menyusun rencana pengembangan atau plan of development (PoD) EOR skala penuh untuk Lapangan Tanjung, dengan target onstream pada 2030-2031. Sementara itu, CNPC dan CNOOC masih mencari potensi lapangan lain untuk dikerjasamakan.
Penjajakan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan pimpinan perusahaan migas China pada Indonesia-China Energy Forum (ICEF) ke-7 di Bali, September 2024. Dalam forum tersebut, pemerintah menawarkan sejumlah peluang investasi kepada perusahaan energi China, khususnya di sektor hulu migas.
Pemerintah Indonesia menilai bahwa China memiliki teknologi mutakhir untuk pengurasan minyak tahap lanjut. Proyek chemical EOR skala besar diharapkan dapat menyumbang lifting minyak sekitar 200.000 barel per hari pada 2030, dengan potensi peningkatan dua kali lipat pada akhir 2040. Teknologi EOR ini melibatkan injeksi bahan kimia seperti polimer dan surfaktan untuk meningkatkan mobilitas minyak.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong adopsi chemical EOR pada skala yang lebih besar untuk mengatasi penurunan produksi migas alamiah di sumur-sumur tua. Pemerintah telah mengidentifikasi 17 lapangan potensial untuk penerapan EOR skala besar, dengan potensi perolehan sumber daya mencapai 1,12 miliar standar barel tangki minyak (BSTB).
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) telah menandatangani joint study agreement (JSA) dengan Sinopec Energy Investment (HK) Holding Limited untuk studi pengembangan chemical EOR di Lapangan Tanjung. Selain itu, Pertamina juga menggandeng Daqing Oilfield Co., Ltd, afiliasi CNPC, untuk mendorong pengembangan chemical EOR di Lapangan Minas Blok Rokan.
Kerja sama antara Pertamina dan perusahaan migas China dalam pengembangan proyek EOR di Indonesia menawarkan peluang besar untuk meningkatkan produksi minyak nasional. Namun, tantangan dalam hal karakteristik lapangan dan pengembalian investasi tetap menjadi perhatian utama. Dengan teknologi dan pengalaman yang dimiliki oleh China, diharapkan proyek ini dapat berjalan sukses dan memberikan kontribusi signifikan bagi industri migas Indonesia.
