Harga minyak mentah global menunjukkan stabilitas di awal pekan ini, meskipun para pedagang masih menimbang kekhawatiran akan kelebihan pasokan dan dampak sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, diperdagangkan di atas US$63 per barel setelah mengalami dua penurunan mingguan berturut-turut. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) tetap berada di bawah US$60 per barel.
Para pelaku pasar khawatir bahwa produksi minyak dunia akan melampaui permintaan, terutama menjelang rilis prospek pasar oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA) pekan ini. Kekhawatiran ini semakin diperkuat oleh laporan bahwa OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah melonggarkan pembatasan produksi menjelang jeda kenaikan produksi pada kuartal mendatang. Di sisi lain, produsen di luar aliansi, termasuk Amerika Serikat, juga terus meningkatkan produksi mereka.
Sanksi yang dijatuhkan oleh pemerintahan Trump terhadap perusahaan energi Rusia, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, tetap menjadi sorotan utama. Langkah ini diambil untuk meningkatkan tekanan pada Rusia agar mengakhiri konflik di Ukraina. Namun, Hongaria, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Moskwa, berhasil mendapatkan pengecualian dari pembatasan tersebut setelah melakukan negosiasi dengan Washington.
Harga minyak mentah telah mengalami penurunan dalam lima dari enam pekan terakhir, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan surplus pasokan yang mendominasi pasar. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi para produsen minyak untuk menyeimbangkan antara produksi dan permintaan global.
OPEC dijadwalkan untuk merilis analisis pasar bulanan pada Rabu, 12 November 2025, yang akan diikuti oleh laporan prospek tahunan dari IEA pada hari yang sama. Selain itu, ringkasan bulanan rutin juga akan dirilis pada Kamis, 13 November 2025. Laporan-laporan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar minyak global saat ini.
Badan Informasi Energi AS (EIA) juga dijadwalkan untuk menerbitkan rincian mingguan mengenai pergeseran persediaan minyak di Amerika Serikat, meskipun saat ini terjadi penutupan pemerintah AS. Data ini akan menjadi acuan penting bagi para pelaku pasar dalam menentukan langkah selanjutnya.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak Brent untuk pengiriman Januari mengalami kenaikan sebesar 0,2% menjadi US$63,76 per barel pada pukul 08.21 pagi waktu Singapura. Sementara itu, harga WTI untuk pengiriman Desember naik 0,3% menjadi US$59,91 per barel. Pergerakan harga ini mencerminkan dinamika pasar yang terus dipengaruhi oleh berbagai faktor global.
Dengan berbagai perkembangan ini, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan terus memantau situasi global yang dapat mempengaruhi harga minyak di masa mendatang.
