PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk tetap terlibat dalam proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Meskipun sebelumnya mengalami kendala teknis sebagai offtaker DME yang dikelola oleh PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Pertamina tetap menunjukkan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa perusahaan sempat bermitra dengan PTBA dan Air Products and Chemicals, Inc. (APCI) dalam proyek DME batu bara sebelumnya, sebelum investor asal Amerika Serikat tersebut memutuskan untuk mundur.
Simon menegaskan bahwa Pertamina tetap tertarik untuk terlibat dalam proyek hilirisasi batu bara ini, terutama karena teknologi yang digunakan diharapkan lebih efisien. “Harusnya, harusnya ikut ya. Karena kan kalau yang dahulu dengan Air Product dan lain-lain kan itu harusnya ada dengan Pertamina juga ya. Tentunya sama lah,” ujar Simon saat ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (11/11/2025). Ia menambahkan bahwa setiap inisiatif baru harus dilihat sebagai peluang, bukan persaingan. “Ini kesempatan bagus, tentunya hasilnya lebih bagus. Masyarakat akan mendapat manfaat lebih bagus, harga mungkin lebih murah, emisi lebih rendah, wah sudah itu kita kolaborasi semua lah. Jadi harus selalu kolaborasi,” lanjutnya.
Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME sebelumnya mengalami kegagalan pada era Presiden Joko Widodo. Investor dari AS, Air Products & Chemicals Inc. (APCI), mundur pada 2023 dari proyek DME batu bara yang dipimpin oleh Bukit Asam. Proyek ini awalnya direncanakan berlangsung selama 20 tahun di wilayah Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) yang terletak di mulut tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Sebelum APCI mundur, proyek ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1,4 juta ton DME per tahun dengan memanfaatkan 6 juta ton batu bara per tahun. Proyek ini ditargetkan dapat menggantikan impor gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) sekitar 7—8 juta ton per tahun.
Dalam perkembangannya, Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyerahkan pra-kajian 18 proyek hilirisasi kepada BPI Danantara dan sudah memasuki tahap finalisasi. Salah satu proyek tersebut adalah proyek DME batu bara, yang menjadi penting untuk menggantikan impor LPG. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa perusahaan asal Eropa dan Korea Selatan berminat membentuk konsorsium untuk berinvestasi dalam proyek gasifikasi batu bara ini. Selain itu, perusahaan asal China juga menunjukkan minat pada proyek substitusi impor LPG ini. “Satu dari China, satu gabungan antara Korea [Selatan] dan Eropa. Nanti kita lihat, finalnya nanti kita lihat,” kata Bahlil kepada media di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Bahlil menyatakan bahwa kementeriannya tengah menguji kajian atau feasibility study (FS) dari proyek DME dengan teknologi dari beberapa negara tersebut. “DME, kita belum finalkan. Sekarang kita lagi uji FS-nya dengan teknologinya. Akan tetapi, ancang-ancangnya sudah ada dua,” ucapnya. Di sisi lain, manajemen PTBA memastikan bahwa rencana pengembangan DME perseroan memiliki spesifikasi yang serupa dengan proyek yang sempat digagas bersama dengan APCI. PTBA juga memastikan bahwa BPI Danantara sedang mengkaji berbagai insentif yang akan diberikan terhadap proyek tersebut, mulai dari keringanan pajak, kemudahan impor barang modal, hingga dukungan terhadap kebutuhan belanja modal atau Capex proyek. “Spek dan kapasitas DME masih sama. Sekitar 1 juta ton per tahun. Itu sesuai arahan Satgas Hilirisasi Kementerian ESDM,” kata Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, ketika dihubungi Bloomberg Technoz.
Turino menjelaskan bahwa peran Danantara dalam proyek tersebut hingga kini masih dalam pembahasan. Dengan kata lain, belum terdapat kepastian apakah sovereign wealth fund (SWF) tersebut akan membantu pembiayaan proyek tersebut atau tidak. Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, proyek gasifikasi batu bara menjadi DME ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG dan meningkatkan efisiensi energi nasional. Pertamina dan para pemangku kepentingan lainnya terus berupaya untuk memastikan proyek ini dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
