PT Pertamina (Persero) membuka peluang untuk menggantikan Harbour Energy dalam kemitraan dengan perusahaan migas milik negara Rusia, Zarubezhneft, untuk menggarap Blok Tuna. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa salah satu tugas utama perseroan adalah meningkatkan produksi minyak dan gas (migas). Oleh karena itu, jika ada kesempatan untuk meningkatkan produksi siap jual atau lifting minyak, Pertamina akan berusaha untuk mengambil bagian.
Simon menjelaskan bahwa kemitraan dengan Zarubezhneft di Blok Tuna merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. “Tinggal nanti mengikuti prosedurnya aja. Dari aturan-aturan, compliance, dan lain-lain. Namun, intinya selama bisa meningkatkan produksi tentunya, kita sambut dengan baik,” ujar Simon saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Selasa (11/11/2025).
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengonfirmasi bahwa divestasi operator Blok Tuna, yang terletak di lepas pantai Natuna utara, sudah mendekati tahap akhir. Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, memastikan bahwa perusahaan Inggris, Harbour Energy, akan hengkang dari blok kaya gas tersebut. Sementara itu, Zarubezhneft Asia Ltd (ZAL), entitas perusahaan migas Rusia, akan mengambil alih posisi operator blok.
“Secara normatif, hasil dari divestasi ini pada akhirnya akan menghadirkan pihak baru untuk menemani ZAL,” kata Rikky Rahmat Firdaus kepada Bloomberg Technoz, Rabu (29/10/2025). Menurut Rikky, transaksi divestasi antar kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tersebut mendekati rampung, dan diperkirakan akan selesai dalam dua bulan mendatang. “Kita tunggu saja prosesnya, karena ini merupakan proses B to B [business to business],” tambahnya.
Proyek yang berdekatan dengan Vietnam ini telah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan atau plan of development (PoD) sejak Desember 2022. Ladang gas tersebut dikerjakan oleh kongsi Zarubezhneft melalui anak usahanya ZAL bersama dengan entitas Harbour Energy di Indonesia, Premier Oil Tuna B.V. Keduanya masing-masing memegang 50% hak partisipasi atau participating interest (PI), dengan Premier Oil sebagai operator blok.
Namun, konsorsium Premier Oil dan Zarubezhneft Asia belum menandatangani keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh sanksi yang dikenakan kepada Zarubezhneft akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022. Blok Tuna diperkirakan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar.
Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, Pertamina terus berupaya untuk memastikan kemitraan ini dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat yang optimal bagi produksi migas nasional. Keputusan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Pertamina dalam industri migas global dan meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
