Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa perusahaan migas asal Inggris, Shell Plc., telah memulai joint study dengan Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec) untuk mengembangkan blok gas di Indonesia. Kerjasama ini dilakukan dengan pembagian saham 50:50 antara kedua perusahaan tersebut. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyatakan bahwa proposal terkait joint study ini telah diajukan ke Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).
Djoko Siswanto menjelaskan bahwa saat ini Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengevaluasi wilayah kerja (WK) migas yang diminati oleh Shell untuk eksplorasi lebih lanjut. Sementara itu, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa Shell baru memasuki tahap awal joint study. Menurut Laode, pada tahap ini, setiap pihak yang berminat diperbolehkan untuk bergabung dalam proyek tersebut.
Laode Sulaeman tidak menampik bahwa Shell menunjukkan minat untuk menggarap lima WK yang ada di Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa joint study ini masih dalam tahap usulan dan belum mendapatkan persetujuan resmi. Sebelumnya, SKK Migas menyatakan bahwa kepastian WK migas yang diminati Shell akan diumumkan pada November 2025, setelah pertemuan lanjutan dengan Shell.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menyebutkan bahwa tim teknis Shell saat ini masih mengevaluasi sejumlah WK migas potensial di Indonesia. Namun, Heru enggan mengungkapkan WK mana saja yang sedang dipertimbangkan oleh Shell. Hasil evaluasi ini akan diumumkan setelah pertemuan lanjutan antara SKK Migas dan Shell pada bulan depan. “Bulan November SKK Migas berencana melakukan engagement lanjutan dari pertemuan sebelumnya,” ujar Heru kepada Bloomberg Technoz.
Di sisi lain, Kufpec disebut akan mendorong monetisasi awal cadangan minyak di Blok Natuna D-Alpha sebelum mengembangkan cadangan gas yang melimpah di kawasan tersebut. Rencana ini bertujuan untuk menjaga arus kas konsorsium di tengah risiko tinggi monetisasi cadangan gas di blok tersebut. Berdasarkan data Kementerian ESDM, Lapangan Natuna D-Alpha memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), meskipun kandungan karbondioksida (CO2) yang tinggi mencapai 71% dapat membatasi eksploitasi gas hingga sekitar 46 TCF.
Sebagai catatan, Shell pernah terlibat dalam industri hulu migas Indonesia sebagai pemegang hak partisipasi di proyek Abadi Masela, sebuah ladang gas alam cair (LNG) raksasa di wilayah Tanimbar, Maluku. Di Blok Masela, Shell bersama Inpex Corporation sebelumnya sepakat untuk membangun fasilitas LNG dengan kapasitas tahunan sebesar 9,5 juta ton dalam kontrak senilai sekitar US$20 miliar. Namun, pada tahun 2020, Shell memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut dengan menjual 35% hak partisipasinya seharga US$2 miliar, yang menyebabkan ketidakpastian dalam pengembangan Lapangan Abadi.
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil oleh Shell dan Kufpec, perkembangan eksplorasi migas di Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi industri energi nasional. Keputusan dan hasil evaluasi yang akan diumumkan pada bulan November mendatang akan menjadi penentu arah pengembangan blok gas di Tanah Air.
