Harga minyak mentah mengalami lonjakan setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar 1,49% menjadi US$59,56 per barel, setelah sebelumnya mengalami penurunan hampir 4,2% pada hari Rabu, yang merupakan penurunan terbesar sejak bulan Juni. Sementara itu, harga minyak Brent juga mengalami kenaikan sebesar 1,35% ke level US$63,8 per barel.
Kenaikan harga ini terjadi di tengah pertimbangan pelaku pasar terhadap prospek surplus rekor dan risiko pasokan yang disebabkan oleh sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia. Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan bahwa prospek surplus akan memburuk selama enam bulan berturut-turut. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pasokan minyak akan melebihi permintaan dengan selisih sedikit di atas 4 juta barel per hari pada tahun depan.
Laporan dari pemerintah Amerika Serikat menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah meningkat sebesar 6,4 juta barel pada pekan lalu, yang merupakan kenaikan terbesar sejak bulan Juli dan jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Laporan ini dirilis sehari setelah kelompok produsen OPEC menyatakan bahwa pasokan global telah melampaui permintaan pada kuartal ketiga, membalikkan perkiraan sebelumnya yang menunjukkan adanya defisit.
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meningkatkan tekanan terhadap Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina, termasuk dengan menerapkan sanksi terhadap perusahaan energi Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC. Reuters melaporkan bahwa The Carlyle Group Inc sedang menjajaki opsi untuk membeli aset-aset luar negeri milik Lukoil, beberapa hari sebelum sanksi tersebut berlaku sepenuhnya.
Momentum bearish yang disebabkan oleh berita kenaikan cadangan minyak mentah AS sebagian terkikis oleh indikasi bahwa cadangan produk minyak turun secara keseluruhan, sementara ekspor meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi minyak di dalam negeri dan di seluruh dunia tetap kuat. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah permintaan yang ada cukup untuk menyerap lonjakan surplus pasokan yang telah lama diperkirakan.
Harga minyak mentah telah melemah sepanjang tahun ini di tengah meningkatnya pasokan dari OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, serta meningkatnya produksi dari pengebor di luar aliansi. WTI mencatatkan kerugian bulanan ketiga berturut-turut pada bulan Oktober, dan tren penurunan ini terus berlanjut hingga bulan November.
Pada Jumat, 14 November 2025, pukul 8.20 WIB, harga WTI untuk pengiriman Desember naik sebesar 0,34% menjadi US$59,56 per barel. Sementara itu, harga Brent untuk pengiriman Januari naik sebesar 0,3% ke level US$63,8 per barel.
Dengan situasi pasar yang terus bergejolak, para pelaku pasar dan analis akan terus memantau perkembangan lebih lanjut terkait pasokan dan permintaan minyak global, serta dampak dari kebijakan politik dan ekonomi yang mempengaruhi harga minyak di masa mendatang.
