Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa permintaan minyak dan gas akan terus menguat hingga tahun 2050. Proyeksi ini didasarkan pada tren kebijakan energi di Amerika Serikat serta harga gas yang lebih rendah, yang mendorong peningkatan konsumsi migas secara global.
Sementara itu, IEA juga memprediksi bahwa puncak konsumsi batu bara global akan tercapai pada tahun 2030, dengan asumsi penggunaan minyak tetap stabil hingga saat itu. Hal ini menunjukkan pergeseran fokus energi dari batu bara ke sumber energi lain yang lebih bersih dan efisien.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menekankan bahwa keamanan energi kini menjadi fokus utama banyak pemerintah. Kebijakan energi harus mempertimbangkan sinergi dan kompromi dengan tujuan lain seperti keterjangkauan, akses, daya saing, dan perubahan iklim. “Dengan keamanan energi kini menjadi fokus utama banyak pemerintah, kebijakan mereka harus mempertimbangkan sinergi dan kompromi dengan tujuan lain seperti keterjangkauan, akses, daya saing, dan perubahan iklim,” ujar Birol dalam siaran pers IEA, Rabu (12/11/2025).
Menurut IEA, pasar minyak diperkirakan akan tetap terpasok dengan baik dalam jangka pendek, berkat kontribusi dari lima produsen utama di kawasan Amerika, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Guyana, Brasil, dan Argentina. Namun, penurunan produksi dari ladang minyak yang sudah ada, ditambah dengan meningkatnya konsumsi, akan dengan cepat menyerap kelebihan pasokan minyak global saat ini.
Untuk menjaga keseimbangan pasar, IEA menyatakan bahwa dibutuhkan sekitar 25 juta barel minyak per hari pasokan baru dari proyeksi hingga tahun 2035. Harga minyak pun diperkirakan akan naik dari level saat ini guna mendorong investasi baru di sektor hulu.
Di sisi lain, IEA memproyeksikan kenaikan permintaan gas, meskipun masih terdapat kekhawatiran mengenai kemampuan serap atas LNG baru. Eropa dan China, yang selama satu dekade terakhir menjadi tujuan utama ekspor LNG, diperkirakan akan tetap menerima sebagian volume baru tersebut. Namun, potensi kenaikannya terbatas karena dorongan kuat terhadap pengembangan energi terbarukan, peningkatan kapasitas tenaga nuklir di sejumlah negara, serta penerapan kebijakan efisiensi energi.
Konsekuensinya, LNG dengan harga lebih murah cenderung mengalir ke wilayah lain di dunia, terutama ke India serta sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kendati demikian, IEA mengungkapkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan LNG sekitar 65 miliar meter kubik (bcm) pada tahun 2030.
Proyeksi IEA mengenai permintaan minyak dan gas hingga 2050 menunjukkan tantangan dan peluang bagi industri energi global. Dengan meningkatnya permintaan, ada kebutuhan mendesak untuk investasi baru dan pengembangan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, kebijakan energi yang seimbang dan berkelanjutan akan menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar dan perubahan iklim di masa depan.
