Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa pasokan listrik dan bahan bakar minyak (BBM) tetap terjaga di daerah-daerah yang terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN untuk mengatasi pemadaman listrik di beberapa titik yang terkena dampak banjir.
Bahlil mengungkapkan bahwa PLN telah mengirimkan sejumlah tower listrik ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir. “Sebagian tower tiang listrik ini kita kirim pakai Hercules, subuh tadi sebagian sudah masuk,” ujar Bahlil kepada media di DPP Partai Golkar, Jumat (28/11/2025). Ia menambahkan bahwa tower-tower listrik tersebut sudah mulai dipasang, meskipun tim di lapangan masih menghadapi kendala akses akibat jalan yang terputus.
Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa kementeriannya juga berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) untuk memastikan ketersediaan stok BBM di tiga provinsi yang terdampak banjir. Yuliot menegaskan bahwa Kementerian ESDM meminta Pertamina untuk memastikan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tidak terdampak banjir tetap beroperasi untuk melayani kebutuhan masyarakat.
“Kita juga memastikan untuk SPBU yang ada ini yang bisa dilayani itu akan tetap didistribusikan oleh teman-teman yang ada di Pertamina Patra Niaga,” kata Yuliot kepada media di Kementerian ESDM, Jumat (28/11/2025).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis data sementara mengenai dampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana ini terjadi setelah hujan lebat dengan durasi panjang selama 2-3 hari terakhir.
Di Provinsi Aceh, BNPB mencatat banjir bandang di Kota Lhokseumawe yang menyebabkan sekitar 100 kepala keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di Aceh Barat, banjir berdampak pada 183 kepala keluarga, dengan 33 kepala keluarga mengungsi. Sebanyak 183 unit rumah terendam, satu kantor camat terdampak, dua akses jalan tidak berfungsi normal, dan pendataan lanjutan masih berlangsung karena sejumlah lokasi sulit dijangkau.
Di Aceh Timur, 7.972 kepala keluarga atau 29.706 jiwa terdampak, serta 920 KK atau 2.456 jiwa mengungsi. Sebanyak 7.972 unit rumah terendam, dua rumah rusak berat, satu rusak sedang, dua fasilitas ibadah, tiga fasilitas pendidikan, dua akses jalan terputus, satu jembatan rusak, dan lahan persawahan serta satu kedai turut terdampak.
Di Aceh Singkil, 6.579 KK atau 25.827 jiwa terdampak, dan 684 KK mengungsi. Sekitar 6.000 unit rumah terendam, sejumlah fasilitas pendidikan, ibadah, kesehatan, serta jaringan jalan rusak. Sebagian akses transportasi terputus dan beberapa titik longsor masih dalam penanganan.
Sumatra Utara juga mengalami dampak besar, termasuk banjir bandang di Humbang Hasundutan yang menimbulkan 5 korban meninggal, 4 hilang, 7 luka berat, dan 2 luka ringan, serta 6 rumah rusak berat dan satu jalan utama tertutup material. Di wilayah lain seperti Deli Serdang, 427 KK atau 1.618 jiwa terdampak dan 814 jiwa mengungsi. Sementara di Pakpak Bharat, 1 korban meninggal, dua rumah rusak berat, dan satu akses jalan rusak.
Bencana di Tapanuli Tengah menyebabkan 4 korban meninggal, 1.902 KK terdampak, serta 1.902 unit rumah terdampak. Bencana di Tapanuli Selatan menyebabkan 15 jiwa meninggal, 58 luka-luka, sekitar 3.000 KK mengungsi, serta kerusakan 330 rumah dan sejumlah fasilitas. Bencana di Padang Sidempuan menyebabkan 240 KK atau 870 jiwa terdampak dan 240 rumah terdampak, sementara Mandailing Natal mencatat 776 KK terdampak, 14 rumah rusak berat, satu fasilitas pendidikan, satu jembatan rusak, dan 85 hektare lahan pertanian terendam.
Di Sumatra Barat, hujan deras mengguyur Kota Padang yang memicu bencana hidrometeorologi basah di beberapa titik di wilayah kota. Arus banjir dengan volume debit air besar menerjang sejumlah rumah yang berada di bantaran Sungai Minturun. Material batang pohon dan lumpur merusak rumah warga di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang. BNPB mencatat ada empat warga meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Beberapa rumah mengalami kerusakan. Selain itu, jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, juga putus akibat struktur jembatan yang dihantam material yang hanyut terbawa arus banjir.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dan pihak terkait, diharapkan pasokan listrik dan BBM di daerah terdampak banjir dapat tetap terjaga, sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal.
