Praktisi migas senior, Hadi Ismoyo, menilai pemerintah sebaiknya memulai impor bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat (AS) dengan jenis bervolume konsumsi rendah seperti Pertamax Turbo. Saran ini muncul setelah PT Pertamina (Persero) membuka kemungkinan mengimpor Pertalite dari AS untuk memperkuat pasokan selama libur Natal dan Tahun Baru 2026.
Hadi menjelaskan bahwa impor dari AS membutuhkan waktu persiapan lebih panjang dibandingkan impor dari Singapura. Proses administrasi, termasuk kepabeanan dan cukai, ditambah durasi perjalanan kapal tanker, dapat memakan waktu antara 30 hingga 60 hari. Karena itu, ia mengingatkan perlunya alternatif suplai jika Pertamina tetap berencana memenuhi kebutuhan Pertalite dari AS.
“Ide yang bagus untuk memulai dari bensin yang konsumsinya sedikit. Kalau sampai terjadi antrian panjang dan stok tidak siap, akan jadi isu nasional dan memperburuk citra Pemerintah,” ujar Hadi, Selasa (2/12/2025).
Meski demikian, Hadi menilai proses pengiriman dari AS masih bisa dipercepat menjadi 15–20 hari dengan upaya ekstra dari pemerintah dan Pertamina. Namun, ia mengingatkan bahwa faktor cuaca dan padatnya aktivitas pelabuhan di akhir tahun berpotensi memperpanjang waktu kedatangan.
Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah dan Pertamina melakukan simulasi penuh terhadap proses impor dari AS sebelum memutuskan untuk mengimpor Pertalite. “Jika setelah dilakukan detail simulasi, BBM AS tidak sampai ke Indonesia sebelum Nataru, dengan parameter yang sudah diketahui akan mudah dilakukan simulasi,” tegasnya.
Pertamina Patra Niaga sebelumnya mengumumkan rencana meningkatkan pasokan Pertalite hingga 1,4 juta kiloliter pada akhir tahun. Selain produksi dalam negeri, opsi impor dari AS juga dibuka. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyaluran BBM bersubsidi saat ini 1%–5% di bawah kuota 2025, dengan rencana impor BBM dari AS mencapai sekitar 40% dari total pengadaan Pertamina.
“Pasar impor kita kan berdasarkan kebijakan pemerintah sudah ada untuk menyerap yang dari AS. Selebihnya juga dilakukan dengan supplier-supplier yang ada di lokasi lain,” kata Roberth.
Per 25 November 2025, ketahanan stok Pertalite tercatat 17 hari; Pertamax 22 hari; Pertamax Turbo 13 hari; Pertamina Dex 15 hari; Solar 14 hari; avtur 25 hari. Sementara itu, ketahanan stok LPG 3 Kg mencapai 13 hari menjelang Nataru 2025–2026.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu arahan pemerintah mengenai penugasan impor komoditas migas dari AS. Karena itu, waktu pasti realisasi impor minyak mentah dan komoditas lainnya belum dapat dipastikan. “Kami perlu dasar hukum yang kuat dan kehati-hatian dalam pelaksanaannya,” ujar Baron.
Hadi Ismoyo mendorong pemerintah dan Pertamina untuk berhati-hati dalam merencanakan impor BBM dari AS, mengingat waktu persiapan yang lebih panjang serta risiko logistik menjelang akhir tahun. Ia menyarankan agar impor dimulai dari jenis BBM bervolume konsumsi rendah untuk mengurangi risiko kekurangan stok nasional. Pertamina sendiri masih menunggu arahan resmi pemerintah terkait penugasan impor, sementara kebutuhan stok menjelang Nataru tetap menjadi fokus utama.
