Praktisi senior migas, Hadi Ismoyo, mengingatkan pemerintah mengenai potensi risiko yang lebih besar dalam impor komoditas migas—terutama bensin RON 90—dari Amerika Serikat (AS), dibandingkan dengan impor reguler dari Singapura. Ia menilai waktu yang dimiliki PT Pertamina (Persero) untuk mengamankan pasokan BBM demi memastikan kecukupan stok pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) sangat terbatas apabila impor dilakukan dari AS.
Menurut Hadi, impor BBM dari Singapura selama ini berjalan lancar tanpa kendala signifikan, karena jaraknya dekat dan proses administrasi impor seperti bea cukai lebih mudah. Ia mengatakan suplai dari Singapura bahkan dapat tiba di Indonesia hanya dalam dua hari. Sebaliknya, impor dari AS membutuhkan waktu pengiriman dan pengurusan administrasi selama 30 hingga 60 hari. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan keterlambatan pemenuhan stok Pertalite jika impor baru dimulai pada akhir tahun.
“Menurut saya persiapannya cukup mepet, bukan tidak bisa, tetapi membutuhkan kerja keras dan kerja sama para pihak agar benar-benar bisa dipercepat prosesnya,” jelas Hadi, Selasa (2/12/2025).
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menyatakan kesiapan untuk membuka opsi impor BBM jenis RON 90 setara Pertalite dari AS guna menambah ketahanan stok menjelang libur panjang Nataru. Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, mengatakan bahwa realisasi penyaluran Pertalite hingga saat ini masih 1%–5% di bawah kuota tahunan 2025 yang ditetapkan sebesar 31,2 juta kiloliter. Dengan begitu, perusahaan masih memiliki ruang untuk menambah stok BBM bersubsidi.
Roberth menuturkan bahwa penambahan pasokan akan berasal dari produksi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan impor langsung oleh PPN. Ia juga menegaskan bahwa impor dari AS dapat saja dilakukan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah terkait kesepakatan tarif resiprokal dengan Presiden Donald Trump. Berdasarkan informasi yang diterima PPN, impor BBM dari AS diperkirakan mencapai sekitar 40% dari total pengadaan Pertamina.
“Pasar impor kami kan berdasarkan kebijakan pemerintah sudah ada untuk menyerap yang dari AS. Di luar itu juga kalau AS kan setara 40% seperti kebijakan pemerintah,” ujar Roberth, Rabu (26/11/2025). Meski demikian, ia belum dapat memastikan jadwal impor tersebut, hanya memastikan bahwa proses pengadaan akan mengikuti prosedur yang berlaku. Ia meyakinkan masyarakat bahwa stok Pertalite menjelang Nataru tidak perlu dikhawatirkan.
Rencana pembelian komoditas migas ini sebelumnya masuk dalam agenda perundingan perdagangan antara Indonesia dan AS setelah penerapan tarif resiprokal sebesar 19%—lebih rendah dari rencana awal 32%. Nilai paket impor migas tersebut diproyeksikan mencapai US$15 miliar untuk menyeimbangkan surplus dagang Indonesia terhadap AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan impor migas dari AS mulai direalisasikan pada tahun ini. Meski belum ada kontrak jual beli yang diteken, Airlangga tetap optimis implementasi pembelian migas terjadi sebelum akhir tahun.
“Ditargetkan seperti itu [realisasi tahun ini],” ujarnya dalam CEO Insight 2025, Selasa (4/11/2025).
Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa rencana impor BBM dari AS membawa risiko waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan impor dari Singapura, sehingga dapat mengganggu ketahanan stok Pertalite menjelang Nataru. Sementara Pertamina Patra Niaga menyatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah dan menjaga pasokan, ketidakpastian waktu impor masih menjadi perhatian. Pemerintah tetap menargetkan realisasi pembelian migas dari AS tahun ini sebagai bagian dari kesepakatan dagang bilateral, meskipun kontrak resmi belum ditandatangani.
