PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meminta masyarakat untuk tidak terlalu euforia dengan potensi migas baru di Riau. General Manager PHR, Andre Wijanarko, menegaskan bahwa ada tantangan besar yang harus dihadapi untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi produksi nyata.
Tantangan Utama di Balik Produksi Migas
Produksi migas di Riau menghadapi berbagai kendala, baik teknis maupun non-teknis. Secara teknis, debit sumur terus menurun sekitar 40% setiap tahun, sehingga PHR harus melakukan pengeboran masif. Namun, tantangan terbesarnya justru datang dari masalah non-teknis:
- Sengketa Lahan: Pengeboran sering terhambat karena proses akuisisi lahan yang rumit dan memakan waktu bertahun-tahun. Negosiasi dengan pemilik lahan bisa menjadi proses yang panjang dan sulit.
- Perizinan: Proses perizinan sangat kompleks, terutama ketika lokasi pengeboran beririsan dengan kawasan yang dikelola pemerintah, seperti perkebunan. Hal ini membutuhkan koordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait, yang dapat menunda proyek yang seharusnya bisa selesai dalam waktu singkat.
Wijanarko mengingatkan bahwa mewujudkan potensi migas menjadi produksi riil adalah pekerjaan yang membutuhkan proses panjang, dari eksplorasi hingga pembangunan infrastruktur. Ia menekankan perlunya kerja sama antara PHR dan pemerintah daerah untuk mengatasi kendala-kendala ini demi kelancaran produksi migas, yang pada akhirnya akan menguntungkan masyarakat Riau.
