Sebagai salah satu negara yang telah meratifikasi Kesepakatan Paris, Indonesia kini tengah berupaya melakukan transformasi energi. Kesepakatan ini menuntut negara-negara untuk menurunkan emisi karbon dari semua sektor pembangunan ekonomi, mulai dari industri hingga transportasi.
Komitmen ini telah ditegaskan kembali oleh Indonesia melalui dokumen Enhanced-Nationally Determined Contribution (ENDC), di mana Indonesia berjanji untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 912 juta ton pada tahun 2030 dan mencapai emisi nol bersih (NZE) pada tahun 2060.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia mulai menggantikan bahan bakar fosil dengan energi terbarukan, seperti energi surya, energi angin, energi panas bumi, tenaga air, dan biofuel. Berdasarkan catatan, potensi pengembangan elektrifikasi dari energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.687 gigawatt, terdiri dari 2.898 GW dari energi surya, 589 GW dari energi angin, 94,6 GW dari tenaga air, 23,4 GW dari energi panas bumi, dan 50 GW dari biofuel.
Indonesia juga memiliki cadangan sumber daya mineral yang melimpah, misalnya, memiliki 72 juta ton nikel, yang menyumbang 52 persen dari total cadangan nikel dunia. Selain itu, dengan potensi eksplorasi total 1.200 juta ton, Indonesia memiliki cadangan bauksit terbesar keenam di dunia. Indonesia juga memiliki cadangan batu bara sebesar 134,24 miliar ton yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga 500 tahun, dengan asumsi penggunaan 250 juta ton per tahun.
Cadangan mineral yang melimpah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Pada tahun 2023, sektor mineral dan batu bara menyumbang Rp2.198 triliun (sekitar USD137,94 miliar) dari produk domestik bruto (PDB) negara, atau 10,5 persen dari total PDB sebesar Rp20.892 triliun (sekitar USD1,31 triliun). Namun, sektor pertambangan mineral dan batu bara juga merupakan kontributor signifikan terhadap emisi karbon, menyumbang 4–7 persen dari emisi gas rumah kaca secara global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menekankan bahwa Indonesia akan terus berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan mewujudkan emisi nol bersih, sesuai dengan kesepakatan global. Namun, dalam mengejar tujuan tersebut, Indonesia sebagai negara yang berdaulat penuh, menggunakan langkah-langkahnya sendiri alih-alih menggunakan tolok ukur negara maju.
Selama teknologi untuk mengembangkan energi terbarukan masih mahal dan ekonomi Indonesia belum kuat, pemerintah akan terus menyesuaikannya dengan kondisi domestik dan memprioritaskan potensi yang ada demi kesejahteraan masyarakat. Ini karena proses transisi energi melibatkan biaya besar, dengan pengembangan elektrifikasi untuk energi surya, energi panas bumi, energi angin, biofuel, dan tenaga air membutuhkan investasi sebesar USD1 triliun.
Oleh karena itu, strategi transisi energi Indonesia menetapkan pergeseran bertahap dari bahan bakar fosil ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah telah menetapkan strategi transisi bertahap melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Dalam rencana tersebut, bauran energi nasional untuk listrik ditargetkan terdiri dari 48 persen energi fosil dan 52 persen energi terbarukan pada tahun 2030.
Dalam RUPTL, pemerintah telah menetapkan pertumbuhan listrik rata-rata 4,9 persen per tahun dan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 40,6 gigawatt, jaringan transmisi sepanjang 47.723 kilometer sirkuit, dan sekitar 76.662 megavolt-ampere (MVA) transformator gardu induk. Selain itu, termasuk penambahan jaringan distribusi sepanjang 456.547 kilometer sirkuit dan sekitar 31.095 MVA transformator gardu induk.
Untuk meningkatkan bauran listrik dari energi terbarukan, RUPTL menekankan pentingnya inovasi dengan mencampur batu bara dengan biomassa atau limbah kota (co-firing). Ini telah diuji di pembangkit listrik tenaga batu bara jenis circulated fluidized bed (CFB), pulverized coal (PC), dan stocker sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.
Ini juga termasuk penggunaan hasil teknologi batu bara cair dan batu bara gasifikasi untuk pemanfaatan batu bara berkalori rendah, yang cukup melimpah di Indonesia, dan secara teoritis, sangat sulit digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik tenaga batu bara. Proyek percontohan dari program ini sedang dilakukan oleh perusahaan listrik negara PLN bekerja sama dengan pengembang di Karawang, Jawa Barat.
Ke depan, penggunaan mineral seperti nikel, bauksit, timah, dan batu bara akan difokuskan pada pemberian nilai tambah ekonomi melalui kebijakan hilirisasi. Misalnya, di bawah strategi yang ditetapkan oleh pemerintah, batu bara akan difokuskan pada hilirisasi untuk memproduksi produk metanol dan dimetil eter (DME), yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gas minyak cair bagi masyarakat.
Sedangkan untuk nikel, sedang dikembangkan untuk memproduksi produk sel baterai kendaraan listrik (EV), yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia, sekaligus membantu mengurangi emisi karbon di sektor transportasi.
Melalui langkah-langkah ini, Indonesia berharap dapat secara bertahap mengurangi energi fosil sebagai kontributor utama pasokan energi nasional, tanpa mengorbankan kontribusi sektor mineral dan batu bara terhadap perekonomian. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan strategi transisi energi yang direncanakan, Indonesia berada pada titik krusial dalam menentukan masa depannya.
Upaya untuk mewujudkan NZE pada tahun 2060 bukan hanya tanggung jawab global tetapi juga peluang untuk mengembangkan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Namun, perjalanan ini memerlukan komitmen kuat, inovasi teknologi, dan keberanian untuk beradaptasi dengan tantangan domestik dan global.
Dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan, memprioritaskan hilirisasi mineral, dan menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, Indonesia dapat muncul sebagai model transisi energi yang efektif di antara negara-negara berkembang. Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia dalam mengurangi emisi karbon sambil mempertahankan pertumbuhan ekonomi akan mencerminkan visi bangsa: bergerak maju dengan kekuatan lokal, berpikir global, dan melestarikan sumber daya bumi untuk generasi mendatang.
