Kenaikan permintaan global terhadap emas dan tembaga memberikan momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok logam strategis dunia. Kedua komoditas ini kini dikategorikan sebagai strategic future metals. Emas berfungsi sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik global, sementara tembaga menjadi tulang punggung transisi energi menuju kendaraan listrik, baterai, dan jaringan listrik hijau.
Menurut Pengamat Energi Universitas Indonesia, Ali Ahmudi, hilirisasi tembaga dan emas di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain dalam pemurnian logam mulia. “Hilirisasi logam mulia, khususnya tembaga dan emas, adalah jantung dari transformasi industri mineral nasional,” kata Ali dalam keterangannya, Kamis (11/6/2025).
Ali menjelaskan bahwa selama ini lebih dari 60 persen nilai tambah hilang karena ekspor konsentrat mentah. Dengan memperkuat pemurnian dan manufaktur logam di dalam negeri, Indonesia tidak hanya menjadi penambang, tetapi juga pemain industri global. Langkah strategis yang perlu diprioritaskan antara lain integrasi hilirisasi melalui proyek Smelter Gresik dan Precious Metal Refinery (PMR).
Selain itu, penguatan sistem traceability emas domestik, dukungan terhadap sertifikasi Good Delivery (London Bullion Market Association), serta perluasan ekspor produk logam olahan menjadi fokus utama. “Dengan smelter dan PMR, Indonesia akan mengekspor copper cathode dan bullion, bukan lagi konsentrat mentah. Ini akan memperkuat agenda kedaulatan mineral nasional sekaligus mendorong green economy downstreaming,” ujarnya.
Ali menilai transformasi ini menjadi bagian dari upaya Indonesia menuju regional refining and manufacturing hub pada 2025–2035, menggabungkan kekuatan sumber daya alam, kapasitas hilir, dan kebijakan industri nasional di bawah visi Indonesia Emas 2045.
Momentum hilirisasi tembaga dan emas tercermin dari kinerja dua perusahaan tambang besar di bawah MIND ID Group, yakni PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang mencatat pertumbuhan produksi dan keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Freeport membukukan produksi 966 juta pon tembaga dan 876 ribu ons emas hingga September 2025.
Meski sedikit menurun akibat insiden mud rush di tambang bawah tanah Grasberg pada September lalu, operasional perusahaan tetap tangguh berkat strategi pemulihan bertahap mulai kuartal IV tahun ini. Produksi kuartal III mencapai 281 ribu ons emas dan 311 juta pon tembaga, dengan harga jual rata-rata masing-masing 3.535 dollar AS per ons dan 4,52 dollar AS per pon.
Dari sisi keuangan, Freeport mencatat pendapatan 6,97 miliar dollar AS, naik dari 6,79 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba bersih 674 juta dollar AS atau 0,46 dollar AS per saham. Kinerja tersebut turut didukung efisiensi biaya produksi yang menekan cash cost tembaga menjadi 1,40 dollar AS per pon, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Freeport juga terus melanjutkan proyek hilirisasi di Smelter Gresik dan PMR yang telah memproduksi katoda tembaga pertama pada Juli 2025, tonggak penting menuju kemandirian pemurnian logam di dalam negeri.
Sementara itu, ANTAM membukukan penjualan bersih Rp 72,03 triliun hingga kuartal III 2025, tumbuh 67 persen dibandingkan Rp 43,20 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh bisnis logam mulia Pulogadung dan produksi dore bar melalui anak usaha PT Cibaliung Sumberdaya.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, produksi emas ANTAM mencapai 590 kilogram (18.969 troy ons), dengan tambahan 151 kilogram (4.855 troy ons) pada kuartal III. Meski skalanya lebih kecil dibandingkan Freeport, bisnis emas menjadi penyokong utama margin keuntungan perusahaan di tengah harga global yang tinggi.
Laba bersih ANTAM melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp 6,61 triliun dari Rp 2,23 triliun tahun sebelumnya, dengan posisi kas menguat ke Rp 9,26 triliun. Kinerja positif Freeport dan ANTAM menegaskan arah kebijakan hilirisasi yang kini menjadi fondasi utama pertumbuhan sektor mineral Indonesia.
Melalui pembangunan smelter, penguatan rantai pasok logam mulia, dan dukungan sertifikasi internasional, Indonesia perlahan bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen logam bernilai tinggi. “Indonesia punya peluang besar menjadi pusat pemurnian logam di kawasan, dengan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” pungkas Ali.
