PT Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan bahwa produksi tembaga mereka mengalami penurunan sekitar 30% akibat gangguan yang terjadi di Grasberg Block Cave (GBC). PTFI memproyeksikan bahwa produksi di kompleks tambang Grasberg akan kembali normal pada tahun 2027. Wakil Presiden Direktur PTFI, Jenpino Ngabdi, menyatakan bahwa untuk tahun depan, suplai atau produksi diperkirakan akan berkurang 30% dari kondisi normal. Hal ini disebabkan oleh insiden longsoran lumpur bijih yang terjadi di area tersebut.
Jenpino menjelaskan bahwa produksi PTFI tahun ini hanya sekitar 15 ton dan diharapkan kembali normal pada 2027 dengan kapasitas produksi sekitar 50—60 ton. Sebagian produk PTFI disuplai ke PT Aneka Tambang Tbk. (Antam). “Tahun ini kami baru memulai produksi emas, jadi belum mencapai kapasitas penuh,” ujarnya.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa PTFI telah mengajukan pembukaan kembali sebagian tambang di kompleks Grasberg setelah penangguhan operasional akibat insiden longsor. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebut bahwa kementeriannya siap mengizinkan operasional PTFI di dua tambang yang tidak terdampak longsor, yaitu Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ), jika perusahaan dapat meyakinkan pemerintah.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa Kementerian ESDM sedang melakukan kajian kemungkinan untuk mengoperasikan tambang bawah tanah Freeport yang tidak terdampak longsoran. Bahlil menyebut bahwa jika seluruh tambang Freeport tidak beroperasi, dampaknya terhadap pendapatan negara, pendapatan daerah, karyawan setempat, hingga kontinuitas smelter perseroan akan signifikan. “Tim kami masih di sana, jadi saya belum bisa memberikan pernyataan menyeluruh karena laporan dari tim belum kami terima,” kata Bahlil.
PTFI hingga kini belum melaporkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026, meskipun tenggatnya akan jatuh pada 15 November 2025. Freeport sebelumnya menangguhkan operasi tambang emas dan tembaga Grasberg sejak insiden longsor di Grasberg Block Cave pada awal September. Operasional tambang bawah tanah GBC diperkirakan baru dapat pulih sepenuhnya pada 2027.
Dalam keterangan resminya, Freeport-McMoRan Inc. menyebut bahwa insiden longsoran lumpur bijih telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC. Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut. Badan bijih GBC mewakili 50% dari cadangan terbukti dan terduga PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas hingga 2029.
Saat ini, PTFI memperkirakan bahwa tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV-2025. Sementara itu, pengembalian operasi bertahap tambang GBC dijadwalkan pada paruh pertama 2026. Konsekuensinya, penjualan tembaga dan emas PTFI akan terbatas pada kuartal IV-2025, jauh di bawah estimasi sebelumnya yaitu 445 juta pon tembaga dan 345.000 ons emas.
Pembukaan kembali kegiatan operasi GBC akan dimulai di tiga blok produksi, yaitu PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026, dan PB1C menyusul pada 2027. Dengan langkah-langkah ini, PTFI berharap dapat memulihkan produksi dan memenuhi proyeksi jangka panjang mereka.
