Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan bahwa ekspor batu bara Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami penurunan sekitar 30 juta ton dibandingkan dengan realisasi ekspor tahun sebelumnya yang mencapai 555 juta ton. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba ESDM, Surya Herjuna, menjelaskan bahwa ekspor batu bara tahun ini diperkirakan berada di angka 525 juta ton.
Surya mengaitkan potensi penurunan kinerja ekspor ini dengan kondisi makroekonomi global yang tidak menentu, yang berdampak pada menurunnya permintaan batu bara dari negara mitra utama seperti China dan India. “Memang ada kecenderungan turun, tetapi turunnya itu kan bukan karena batu bara kita tidak laku. Memang, ekonomi kan lagi turun. Di China juga turun, di India juga turun. Artinya juga DMO [domestic market obligation] juga turun,” ujar Surya dalam Coalindo Coal Conference 2025, Rabu (5/11/2025).
Lebih lanjut, Surya menyebutkan bahwa produksi batu bara Indonesia dari Januari hingga September 2025 tercatat mencapai 585 juta ton, mengalami penurunan sebesar 7,47% secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun harga batu bara sempat mengalami kenaikan, Surya menilai bahwa kenaikan tersebut belum mencapai tingkat yang optimal untuk meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kinerja ekspor batu bara dari Januari hingga September 2025 mengalami penurunan sebesar 20,85%, mencapai nilai US$17,94 miliar atau sekitar Rp298,79 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.655 per dolar AS). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$22,67 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyatakan bahwa penurunan nilai ekspor batu bara ini juga diikuti oleh penurunan volume pengiriman batu bara sepanjang Januari hingga September tahun ini. “Secara kumulatif ekspor batu bara turun 20,85%,” kata Pudji dalam konferensi pers daring, Senin (3/11/2025).
Sementara itu, harga batu bara di pasar internasional menunjukkan tren kenaikan. Pada Selasa (4/11/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup pada US$110,85 per ton, naik 1,14% dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 27 Agustus atau lebih dari dua bulan terakhir. Harga batu bara telah menguat selama tiga hari berturut-turut, dengan total kenaikan mencapai 6,69%.
Kementerian ESDM mencatat bahwa total produksi batu bara Indonesia sepanjang tahun 2024 mencapai 836 juta ton, setara dengan 117% dari target yang ditetapkan sebesar 710 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 233 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri atau DMO, yang juga melebihi target DMO sebesar 220 juta ton. Di sisi lain, ekspor batu bara mencapai 555 juta ton, meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun 2023 yang sebesar 518 juta ton. Sementara itu, 48 juta ton di antaranya disimpan sebagai stok domestik.
Untuk tahun 2025, Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara sebesar 735 juta ton. Target ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menyeimbangkan antara kebutuhan domestik dan ekspor di tengah tantangan ekonomi global yang terus berubah.
Penurunan ekspor batu bara Indonesia pada tahun 2025 mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sektor pertambangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meskipun harga batu bara menunjukkan tren kenaikan, penurunan permintaan dari negara mitra utama seperti China dan India menjadi faktor utama yang mempengaruhi kinerja ekspor. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat terus beradaptasi dengan dinamika pasar global untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan sektor pertambangan di masa mendatang.
