Harga batu bara termal di China mengalami lonjakan signifikan, mencapai level tertinggi tahun ini. Peningkatan ini didorong oleh kombinasi faktor jangka pendek dan jangka panjang yang memperkuat keyakinan terhadap prospek permintaan batu bara di masa depan.
Kenaikan harga ini sebagian besar dipicu oleh pembelian ulang pasokan oleh perusahaan utilitas untuk memenuhi kebutuhan musim dingin. Selain itu, inspeksi tambang yang berkepanjangan juga berperan penting dalam memastikan keselamatan dan mengendalikan produksi berlebih, yang turut mendorong kenaikan harga.
Optimisme pasar juga didorong oleh gencatan dagang antara China dan Amerika Serikat, yang memberikan sinyal positif bagi perekonomian global. Selain itu, sikap Beijing yang lebih lunak dalam membatasi konsumsi batu bara, meskipun merupakan bahan bakar fosil paling kotor, turut mempengaruhi peningkatan permintaan.
Menurut data dari China Coal Transportation and Distribution Association, harga acuan di pelabuhan Qinhuangdao naik menjadi 788 yuan atau sekitar US$111 per ton, meningkat lebih dari 10% dalam satu bulan terakhir. Tren serupa juga terlihat pada batu bara metalurgi, dengan harga berjangka di Dalian mendekati level tertingginya tahun ini.
Rencana pembangunan lima tahun terbaru dari China menunjukkan perubahan sikap terkait kapan penggunaan batu bara harus mulai menurun. Hal ini menandakan bahwa puncak konsumsi kemungkinan akan terjadi lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Asosiasi Batu Bara Nasional China memperkirakan permintaan akan tumbuh stabil tahun depan sebelum mencapai titik datar pada 2030.
Meskipun harga batu bara termal saat ini masih sekitar 7% lebih rendah dibandingkan tahun lalu, hal ini mencerminkan tekanan besar akibat peningkatan produksi yang masif setelah krisis pasokan pada awal dekade ini. Sementara itu, energi terbarukan terus memperluas pangsa dalam pembangkitan listrik nasional, yang berarti surplus batu bara kemungkinan masih berlanjut pada tahun depan.
Bloomberg Intelligence memperkirakan harga acuan dapat turun ke rata-rata 660 yuan per ton pada 2026, dengan potensi kenaikan dibatasi di sekitar 850 yuan per ton. Faktor cuaca tetap menjadi variabel tak terduga, namun prakiraan resmi terbaru menunjukkan bahwa musim dingin mungkin tidak akan terlalu ekstrem. Pusat Iklim Nasional memperkirakan suhu di sebagian besar wilayah akan berada di kisaran normal hingga sedikit di atas rata-rata pada Desember hingga Februari, dengan curah hujan yang lebih sedikit dari biasanya, yang bisa mengurangi kompetisi dari pembangkit listrik tenaga air terhadap penggunaan batu bara.
Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi harga dan permintaan batu bara, pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan dan kondisi cuaca yang dapat mempengaruhi tren di masa depan.
