PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengumumkan telah melakukan impor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis bensin Pertamax Turbo (RON 98) guna memenuhi permintaan masyarakat yang meningkat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Direktur Utama PPN, Mars Ega Legowo, menyatakan bahwa permintaan Pertamax Turbo mengalami lonjakan hingga 76%. Untuk mengatasi hal ini, Pertamina berupaya menambah pasokan bensin RON 98 baik dari kilang maupun melalui impor.
Ega menjelaskan bahwa pasokan Pertamax dari kilang Pertamina telah mencapai batas maksimal, sehingga PPN memutuskan untuk mendatangkan impor BBM dengan RON 98 guna menutupi kekurangan pasokan. “Dari kilang, kami sudah berupaya semaksimal mungkin, sehingga kekurangannya dipasok dari impor. Penambahan impor ini tentunya memerlukan waktu, saat ini kargo impor sedang dalam perjalanan menuju Indonesia dan diharapkan segera mengisi beberapa tempat untuk Pertamax Turbo,” ujar Ega dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII, Selasa (18/11/2025).
Selain itu, Ega menambahkan bahwa BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) memiliki ketahanan stok untuk 24 hari ke depan. Pertamina berencana untuk memaksimalkan distribusi BBM nonsubsidi tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite, Ega mengungkapkan bahwa penyalurannya masih berada di bawah target perusahaan. Hingga Oktober 2025, penyaluran Pertalite tercatat 10% di bawah kuota 2025 yang ditetapkan sebesar 31,2 juta kiloliter (kl). “Secara umum, Pertalite masih aman, tetapi sedikit di bawah target kami. Kami sedang meningkatkan penambahan kargo untuk Pertalite ini. Namun, karena Pertalite sudah memiliki sistem kontrol, layanan kepada masyarakat dapat kami kendalikan secara relatif,” jelas Ega.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa perusahaan telah mengaktifkan satuan tugas (satgas) Nataru 2025 pada 13 November 2025. Simon menjelaskan bahwa Satgas Nataru telah mengadakan rapat kesiapan stok BBM nasional untuk memastikan kebutuhan energi tetap terjaga selama libur panjang tersebut. “Biasanya kami mengaktifkan Satgas Natal dan Tahun Baru pada awal Desember, tetapi kali ini kami mengaktifkannya lebih cepat. Satgas Nataru sudah aktif sejak 13 November dan kami sudah mulai rapat kesiapan stok nasional. Dengan demikian, kami akan selalu memperbarui setiap hari,” ungkap Simon.
Sebagai informasi, Pertamina melaporkan bahwa penyaluran BBM subsidi Pertalite hingga Oktober 2025 berada 10% di bawah kuota 2025 sebesar 31,2 juta kl, sementara solar subsidi terealisasi 1,5% di bawah kuota 2025 sebesar 18,8 juta kl. Pertamina mengklaim bahwa penyaluran BBM tersebut masih di bawah kuota karena pembeliannya harus dilakukan melalui QR code yang terdaftar di Pertamina. Secara keseluruhan, Pertamina Patra Niaga telah menjual sebanyak 87 juta kl bensin dari Januari hingga Oktober 2025, dengan 41% di antaranya merupakan BBM non-subsidi.
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil, Pertamina berkomitmen untuk memastikan ketersediaan BBM selama periode Nataru 2025, guna mendukung kebutuhan energi masyarakat Indonesia.
