PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN melaporkan bahwa volume niaga gas hingga Oktober 2025 telah mencapai 255 juta million british thermal unit (MMBtu). Dari jumlah tersebut, 47 juta MMBtu di antaranya berasal dari regasifikasi gas alam cair atau liquified natural gas (LNG). Sementara itu, volume transmisi gas yang telah direalisasikan PGAS mencapai 493.000 million standard cubic feet per day (MMSCF).
Direktur Utama PGAS, Arief Kurnia Rusdianto, dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, menyatakan bahwa PGN telah menyalurkan 255 juta MMBtu gas, termasuk 47 juta MMBtu dari LNG. Saat ini, PGAS mengelola jaringan pipa sepanjang 33.500 kilometer dan melayani lebih dari 824.000 pelanggan dari berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, komersial, hingga industri. Secara rinci, pelanggan PGAS terdiri dari 3.351 industri dan komersial, 2.908 pelanggan kecil, dan 818.546 rumah tangga. PGAS menguasai sekitar 91% pangsa pasar gas bumi di Indonesia.
Arief juga menyoroti infrastruktur gas yang dimiliki PGAS, termasuk 3 terminal regasifikasi LNG; 2 terapung dan 1 di darat. Infrastruktur ini memastikan kebutuhan gas untuk industri dan pembangkit listrik dapat terpenuhi, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional tidak terganggu. Dalam kesempatan tersebut, Arief mengungkapkan bahwa kebutuhan LNG perseroan untuk 2026 mencapai 19 kargo. Saat ini, PGAS telah mengamankan 14 kargo LNG dan masih membutuhkan 5 kargo tambahan. Arief berharap mendapatkan dukungan dari Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk memperoleh kargo tambahan tersebut.
Arief menekankan pentingnya harga yang kompetitif bagi pelanggan PGAS agar dapat mendukung kebutuhan gas bumi di seluruh industri di Indonesia. Pada semester I-2025, volume niaga gas PGN mencapai 832 billion british thermal units per day (BBtud), turun 1,1% yoy akibat penurunan pasokan pipa dan permintaan pelanggan. Untuk menjaga keandalan, PGAS meningkatkan porsi LNG dalam bauran pasokan menjadi 10%.
Dari sisi pelanggan, penyerapan terbesar berasal dari pembangkit listrik (27%), industri kimia (18%), keramik (10%), makanan (9%), besi (6%), dan kaca (5%). Volume transportasi gas mencapai 1.627 MMSFD, naik 10% yoy, didorong oleh kenaikan aliran di ruas pipa Muara Karang—Muara Tawar dan peningkatan serapan PLN. Volume regasifikasi, termasuk Terminal Usage Agreement, naik 24% menjadi 246 BBtud. Segmen transportasi minyak juga naik 15% yoy, sementara lifting migas PGN turun akibat penurunan alami dan belum adanya sumur baru di Blok Pangkah.
Dengan berbagai pencapaian dan tantangan yang dihadapi, PGAS terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan gas nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
