PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) berkomitmen untuk mencari solusi agar impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) tetap memiliki nilai ekonomi yang optimal. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memenuhi kesepakatan negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan AS. Direktur Utama KPI, Taufik Adityawarman, menegaskan bahwa perusahaan mendukung penuh rencana ini, terutama dalam hal importasi minyak mentah atau crude dari AS.
Taufik Adityawarman menyatakan bahwa impor minyak mentah yang dilakukan oleh KPI akan tetap memiliki nilai keekonomian yang baik. Hal ini dilakukan sembari membantu pemerintah dalam merealisasikan kesepakatan tarif tersebut. “Kami mendukung program pemerintah untuk tarif lokal resiprokal dengan AS, bagaimana mendapatkan impor minyak mentah dari AS secara ekonomis, tetapi juga membantu sebagai bagian dari keseimbangan perdagangan tarif AS,” ujar Taufik dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, Selasa (18/11/2025).
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa perusahaan belum mengimpor BBM hingga LPG dari AS. Rencana pembelian komoditas migas ini masih dalam tahap pembicaraan dengan pemerintah AS. “Ini masih di Kementerian Perekonomian, kita semua masih dalam tahap pembicaraan juga. Itu belum dijalankan karena memang masih proses pembicaraan,” kata Simon kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Indonesia saat ini dikenakan tarif sebesar 19%, lebih rendah dibandingkan sebelum negosiasi dengan AS yang mencapai 32%. Salah satu kesepakatan yang diteken antara RI dan AS adalah kebijakan impor minyak mentah, gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), hingga BBM jenis bensin dengan nilai total US$15 miliar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan impor komoditas migas tersebut mulai dilakukan tahun ini.
Airlangga menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada kontrak jual-beli migas yang diteken antara Indonesia dan AS. Namun, dia tetap menargetkan realisasi pembelian sejumlah komoditas migas tersebut dilakukan pada sisa tahun ini. “Nanti kita akan bahas sesudah perjanjian itu ditandatangani. Ditargetkan seperti itu [realisasi tahun ini],” kata Airlangga kepada media, di CEO Insight 2025, Selasa (4/11/2025).
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa impor komoditas migas Indonesia belakangan ini masih berasal dari Singapura. Diharapkan, impor ini dapat dialihkan ke AS pada akhir tahun ini. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa hingga kini belum ada tindak lanjut atas kesepakatan yang diteken RI-AS dalam negosiasi tarif tersebut. “Belum, belum. Jadi kalau semua yang berhubungan dengan kesepakatan tarif itu sekarang masih on process,” kata Laode kepada media di Kementerian ESDM, Jumat (7/11/2025).
Untuk diketahui, impor migas Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$36,27 miliar. Postur impor ini berasal dari pembelian minyak mentah sekitar US$10 miliar dan hasil migas sebesar US$25,92 miliar, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Impor LPG Indonesia sepanjang 2024 mencapai 6,89 juta ton dengan nilai mencapai US$3,78 miliar. Porsi impor LPG dari Amerika Serikat mencapai 3,94 juta ton, dengan nilai impor US$2,03 miliar. Selain AS, Indonesia juga mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, hingga Algeria.
Di sisi lain, kuota impor minyak mentah Indonesia dari AS terbilang kecil dibandingkan dengan realisasi impor sepanjang 2024. Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sekitar US$430,9 juta pada periode tersebut. Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria, hingga Australia. Sementara itu, impor BBM kebanyakan berasal dari kilang di Singapura.
Dengan berbagai tantangan dan upaya yang dilakukan, PT Kilang Pertamina Internasional terus berusaha untuk memastikan bahwa impor minyak mentah dari AS dapat memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi Indonesia.
