PT Pertamina Patra Niaga (PPN) membuka peluang untuk mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin RON 90 setara Pertalite dari Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil untuk memperkuat pasokan perusahaan dalam menghadapi momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa hingga saat ini penyaluran Pertalite masih berada 1%—5% di bawah kuota yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2025, yaitu sebanyak 31,2 juta kiloliter (kl).
Dengan kondisi tersebut, PPN masih memiliki kesempatan untuk menambah pasokan guna mengantisipasi peningkatan pergerakan masyarakat dan permintaan BBM selama masa Nataru. Roberth menyatakan bahwa penambahan stok ini akan berasal dari produksi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan impor langsung yang dilakukan oleh PPN. Impor dari AS ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah terkait kesepakatan tarif resiprokal dengan Presiden Donald Trump.
Roberth mengungkapkan bahwa impor BBM dari AS diperkirakan akan mencapai sekitar 40% dari total pengadaan Pertamina. “Pasar impor kami sudah ditetapkan berdasarkan kebijakan pemerintah untuk menyerap dari AS. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan penyedia di lokasi lain,” ujar Roberth dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025). Namun, Roberth belum dapat memastikan kapan impor dari AS akan dilakukan, meskipun ia memastikan bahwa impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri akan dilakukan melalui proses pengadaan yang berlaku.
Pada kesempatan yang sama, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menambahkan bahwa perusahaan masih menunggu arahan dari pemerintah terkait penugasan impor sejumlah komoditas migas dari AS. Baron belum dapat memastikan kapan wacana impor minyak mentah dan beberapa komoditas migas tersebut akan direalisasikan. “Kami perlu dasar hukum yang kuat dan kehati-hatian dalam pelaksanaannya untuk mengamankan distribusi energi kepada masyarakat,” ujar Baron.
Rencana pembelian komoditas migas ini sebelumnya menjadi bagian dari perundingan dagang dengan pemerintah AS, setelah Indonesia dikenakan tarif resiprokal sebesar 19%, lebih rendah dari rencana tarif awal 32%. Nilai paket impor migas dari AS diperkirakan mencapai US$15 miliar untuk mengimbangi surplus neraca dagang dengan AS saat ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan impor komoditas migas dari AS mulai dilakukan tahun ini, meskipun hingga saat ini belum ada kontrak jual-beli migas yang diteken antara Indonesia dan AS.
Di sisi lain, Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa impor komoditas migas masih berasal dari Singapura, yang sebelumnya diharapkan dapat dialihkan ke AS pada akhir tahun ini. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa hingga kini belum ada tindak lanjut atas kesepakatan yang diteken antara RI dan AS dalam negosiasi tarif tersebut. “Semua yang berhubungan dengan kesepakatan tarif itu sekarang masih dalam proses,” kata Laode kepada awak media di Kementerian ESDM, Jumat (7/11/2025).
Dengan langkah-langkah ini, Pertamina Patra Niaga berupaya memastikan ketersediaan BBM yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode libur panjang Natal dan Tahun Baru, serta menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
