Timbunan sampah yang menggunung di kolong Tol Wiyoto Wiyono kembali menjadi sorotan publik. Area ini kini menyerupai “Bantargebang mini” di tengah permukiman warga, menimbulkan kekhawatiran terkait kesehatan, keselamatan, dan risiko kebakaran. Penumpukan sampah yang telah berlangsung bertahun-tahun ini memicu pengelola untuk mengimbau warga agar tidak lagi membuang sampah sembarangan di lokasi tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Utara sebelumnya disebut sebagai pihak yang memanfaatkan area kolong tol untuk penampungan sementara. Corporate Secretary CMNP, Madeline, menjelaskan bahwa awalnya sampah-sampah tersebut menumpuk di area luar kolong tol. Namun, sekitar tahun 2016 atau 2017, Dinas LH Jakarta Utara meminta izin untuk memanfaatkan area tersebut sebagai tempat penampungan sampah sementara. Pengelola menilai lokasi itu bukan TPS liar, melainkan dikelola resmi oleh Dinas LH.
Madeline mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di area kolong tol, karena selain membahayakan kesehatan, area tersebut juga rawan terhadap risiko kebakaran. CMNP berharap agar kolong tol tidak lagi digunakan sebagai TPS. Sebagai solusi, CMNP telah memfasilitasi keberadaan TPS di Waduk Cincin dan juga telah membangun akses jalan menuju TPS.
Menurut pengelola, meskipun sampah yang menggunung tidak memengaruhi struktur tol, aktivitas pengangkatan sampah menggunakan alat berat justru berpotensi berdampak pada konstruksi di atasnya. Oleh karena itu, pemagaran dilakukan untuk melindungi infrastruktur.
Kondisi di lokasi menunjukkan sampah menumpuk sepanjang sekitar 200 meter dengan ketinggian empat meter hingga hampir menyentuh beton tol. Area ini berada di tengah permukiman padat, hanya berjarak 20 meter dari masjid dan sekitar 50 meter dari sekolah. “Iya ini anaknya Bantargebang atau Bantargebang mini,” tutur Ketua RT 06, RW 05, Ridwan, saat diwawancarai Kompas.com.
Tumpukan sampah terdiri atas berbagai jenis, seperti sisa makanan, plastik, sterofoam, papan, kasur, besi, dan material lainnya. Sampah yang bercampur air membuat tanah di bawahnya menjadi becek dan gembur, menambah kompleksitas masalah yang dihadapi warga sekitar.
Dengan situasi ini, penting bagi semua pihak terkait untuk bekerja sama dalam mencari solusi jangka panjang guna mengatasi masalah penumpukan sampah di kolong tol, demi kesehatan dan keselamatan warga sekitar.
