Harga batu bara terus mengalami penurunan signifikan, tercatat turun tiga hari berturut-turut hingga mencapai titik terendah dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif dari menurunnya permintaan global. Volume permintaan batu bara kokas pada semester I-2025 tercatat turun 6% year-on-year (yoy) menjadi 172 juta ton.
Selain itu, faktor musiman turut memengaruhi harga. Berakhirnya musim panas di belahan bumi utara (northern hemisphere) mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC), yang secara otomatis menurunkan konsumsi listrik dan, pada gilirannya, permintaan batu bara. Kombinasi faktor permintaan yang melemah dan kondisi musiman ini membuat tekanan pada harga batu bara semakin terasa.
Dampak penurunan harga ini dirasakan beragam oleh pelaku industri. Perusahaan tambang menghadapi tantangan finansial, sementara industri pengguna batu bara dapat memanfaatkan harga lebih rendah untuk menekan biaya operasional. Meski begitu, batu bara masih tetap menjadi sumber energi penting di beberapa negara berkembang, meski industri ini harus terus menyesuaikan diri dengan tren global menuju energi bersih dan berkelanjutan.
