Kamis, 14 Mei 2026
  • Analisa & Opini
  • Infografis & Data
  • Kebijakan & Regulasi
Subscribe
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
Search Here
Font ResizerAa
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral IndonesiaInfo Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Energi Terbarukan
  • Kelistrikan
  • CSR
Search
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
  • Infografis & Data
  • Kebijakan & Regulasi
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia > Blog > Energi Terbarukan > Target Iklim Indonesia dalam SNDC Dinilai Belum Mencerminkan Ambisi Energi Terbarukan
Energi Terbarukan

Target Iklim Indonesia dalam SNDC Dinilai Belum Mencerminkan Ambisi Energi Terbarukan

Redaksi InfoEnergi
Last updated: 5 November 2025 1:04 pm
Redaksi InfoEnergi
Share
SHARE

Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan bahwa target iklim Indonesia yang tercantum dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) belum sepenuhnya mencerminkan ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai 100 persen energi terbarukan dalam satu dekade mendatang. Dokumen SNDC yang diserahkan kepada Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) pada 27 Oktober 2025 ini menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca berdasarkan skenario absolut, bukan lagi persentase di bawah skenario business as usual.

Namun, dalam dua skenario bersyarat yang diajukan, total emisi Indonesia justru diproyeksikan meningkat hingga tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2019. Dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8 persen atau Low Carbon Compatible Pathway–High (LCCP-H), emisi bersih setelah memperhitungkan sektor hutan dan lahan (FOLU) diperkirakan mencapai 1.489 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada tahun 2035. Jika penyerapan dari FOLU tidak diperhitungkan, total emisi kotor dapat meningkat hingga 1.696 juta ton CO₂e.

IESR menilai bahwa proyeksi ini masih sangat tinggi karbon dan terlalu bergantung pada penyerapan sektor FOLU, bukan pada upaya mitigasi sektor energi. “Artinya, upaya nyata penurunan emisi baru akan dimulai setelah 2035, bukan dalam dekade ini,” tulis IESR dalam keterangan resminya.

Menurut IESR, pendekatan ini tidak efisien karena berpotensi menimbulkan biaya lebih besar di masa depan dan berisiko gagal memenuhi Persetujuan Paris. Berdasarkan Climate Action Tracker (CAT), agar selaras dengan target pemanasan global 1,5°C, emisi absolut Indonesia pada tahun 2035 seharusnya sekitar 720 juta ton CO₂e di luar sektor FOLU.

Sementara itu, target dalam SNDC justru tidak lebih ambisius dibandingkan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, yakni 760 juta ton CO₂e termasuk sektor FOLU. Pada skenario bersyarat tersebut, emisi sektor energi pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 1.336 juta ton CO₂e atau naik 103 persen dibandingkan tahun 2019. Puncak emisi sektor energi baru terjadi pada tahun 2038, mundur dari estimasi dalam draf sebelumnya.

Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, menyatakan bahwa kemunduran puncak emisi ini seharusnya tidak perlu terjadi jika pemerintah berani menjalankan transisi energi sesuai visi Presiden Prabowo. “Dengan potensi 3.800 gigawatt energi terbarukan dan biaya investasi PLTS, PLTB, serta baterai yang makin menurun, pemanfaatan yang lebih besar akan membuat harga listrik jauh lebih murah dan emisi lebih rendah,” ujar Fabby.

Menurutnya, penurunan harga energi terbarukan menjadi faktor penting bagi transisi energi nasional. “Mempertahankan PLTU tua justru membuat Indonesia kehilangan peluang memperoleh harga listrik yang lebih murah,” tambahnya.

Fabby juga menyoroti pendekatan ekonomi dalam SNDC yang dinilai menempatkan aksi iklim sebagai hambatan pertumbuhan. “Ini berbeda dengan hasil pemodelan Low Carbon Development Indonesia (LCDI) Bappenas yang menunjukkan aksi iklim kuat justru menjadi prasyarat pertumbuhan ekonomi berkualitas,” ujarnya.

IESR memperkirakan bahwa transisi energi membutuhkan investasi sekitar 40–50 miliar dollar AS atau setara Rp 660 triliun hingga Rp 825 triliun per tahun. Jika dijalankan konsisten, investasi tersebut justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

TAGGED:SNDC
Share This Article
Twitter Email Copy Link Print
Previous Article Prediksi Kelebihan Pasokan Solar di Indonesia: Dampak Program B50 dan RDMP Balikpapan
Next Article Penguatan Tata Kelola Minerba: Langkah Strategis Pemerintah Melalui Ditjen Gakkum
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Your Trusted Source for Accurate and Timely Updates!

Our commitment to accuracy, impartiality, and delivering breaking news as it happens has earned us the trust of a vast audience. Stay ahead with real-time updates on the latest events, trends.
FacebookLike
TwitterFollow
InstagramFollow
TiktokFollow
LinkedInFollow
MediumFollow
QuoraFollow
- Advertisement -
Ad image

Popular Posts

Harga Batu Bara Turun Setelah Reli Panjang: Dampak dan Prediksi

Harga batu bara mengalami penurunan setelah mengalami reli panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.…

By Redaksi InfoEnergi

Proyek Energi Terbarukan Australia: Tambahan 6.4 GW untuk Pasar Listrik Nasional

Kementerian Perubahan Iklim dan Energi Australia baru-baru ini mengumumkan 19 proyek energi terbarukan yang akan…

By Redaksi InfoEnergi

Anggota DPR Bipartisan Siapkan Rancangan Undang-Undang untuk Mengatasi Dominasi China dalam Rantai Pasokan Mineral Kritis

Para legislator dari kedua kubu politik yang telah berkolaborasi selama berbulan-bulan untuk menantang dominasi China…

By Redaksi InfoEnergi

You Might Also Like

Energi TerbarukanWorld

Kemitraan Strategis Google untuk Pusat Data Berbasis Energi Terbarukan di AS

By Redaksi InfoEnergi
Energi Terbarukan

ESDM Tidak Intervensi Rencana Freeport Beli Konsentrat Amman Mineral

By Redaksi InfoEnergi
Energi Terbarukan

Proyek Energi Hijau RI-Singapura Alokasikan Rp 160 Triliun

By Redaksi InfoEnergi
Energi Terbarukan

Usulan DPR untuk Menghentikan Ekspor LNG: Bahlil Tegaskan Tidak Bisa Dilarang

By Redaksi InfoEnergi
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
Facebook Twitter Youtube Rss Medium

Mengenai Kami


InfoEnergi.id adalah platform media terpercaya yang menyajikan informasi terkini seputar sektor energi di Indonesia. Dengan tujuan memberikan wawasan yang akurat dan terverifikasi, situs ini menghadirkan berbagai berita, analisis, dan update terkait perkembangan energi, baik yang bersumber dari fosil, terbarukan, maupun kebijakan energi nasional. Infoenergi.id mengedepankan kualitas informasi yang selalu diperbarui sesuai dengan dinamika industri energi global dan lokal.

Kategori
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
Link Lainnya
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Syarat dan Ketentuan Berlaku
  • Iklan
  • Pedoman Siber

Copyright @ InfoEnergi.id – Pusat Informasi Mengenai Energi Indonesia

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?