Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) akan memperluas pabrik petrokimia new ethylene project yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto di Cilegon, Banten, pada Kamis (6/11/2025). Pabrik ini, yang terletak di kompleks petrokimia terintegrasi, saat ini baru memanfaatkan sekitar 70 hektare dari total 110 hektare lahan yang tersedia.
Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, menyatakan bahwa perusahaan asal Korea Selatan ini berencana menambah investasi di Indonesia dengan mengembangkan lebih lanjut pabrik petrokimia di Cilegon. “Ke depan pasti insya Allah ada pengembangan investasi karena dari tanahnya 110 hektare, yang sekarang baru dipakai 70 hektare, laporan dari Lotte akan dikembangkan lagi untuk menambah investasinya,” ujar Bahlil dalam peresmian tersebut.
Pabrik ini memiliki nilai investasi sekitar Rp63 triliun hingga Rp64 triliun dan diklaim sebagai salah satu investasi pabrik petrokimia terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan proyek ini sempat mengalami kendala, terutama terkait pembebasan lahan seluas 2,3 hektare yang dimiliki pihak lain. Namun, masalah ini berhasil diselesaikan dengan bantuan Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi.
Pandemi Covid-19 yang melanda dari 2020 hingga 2022 sempat menghambat pembangunan pabrik ini. Meski demikian, Lotte menunjukkan komitmen yang luar biasa untuk melanjutkan proyek ini. Setelah sempat tertunda, pembangunan pabrik berhasil mencapai 65% pada 2024 dan kembali dipercepat dengan bantuan Satgas Hilirisasi yang dibentuk oleh Prabowo.
Bahlil menyatakan bahwa pabrik ini dapat menekan impor minyak dan gas (migas) Indonesia hingga US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,42 triliun. Pabrik ini juga diharapkan dapat menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun. Dari jumlah tersebut, US$1,4 miliar merupakan substitusi impor dan US$600 juta berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia.
Proyek ini memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun. Pabrik ini mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan tambahan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 50% atau sekitar 1,2 juta sebagai bahan pendukung. Naphta diolah menjadi produk hulu seperti ethylene, propylene, mixed C4, pyrolysis gasoline, pyrolysis fuel oil, dan hydrogen. Produk hilirnya meliputi high density polyethylene (HDPE), linear low density polyethylene (LLDPE), polypropylene (PP), butadiene, raffinate, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX).
Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku untuk pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat. Fasilitas ini mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2025 dan terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450.000 ton yang telah beroperasi sebelumnya.
Dengan langkah ekspansi ini, PT Lotte Chemical Indonesia tidak hanya berkontribusi pada pengurangan impor migas, tetapi juga meningkatkan daya saing industri petrokimia Indonesia di pasar internasional.
