PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah memulai pengoperasian unit pengolahan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex di Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa perusahaan masih dalam tahap persiapan integrasi lanjutan proyek RDMP Balikpapan. Simon menambahkan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait waktu peresmian proyek tersebut.
“Proses persiapan terus berjalan, dan kami juga telah melakukan beberapa uji coba. Saat ini, kami tinggal menunggu peresmian,” ujar Simon kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11/2025). Selain itu, Simon menjelaskan bahwa perusahaan sedang menyelesaikan upaya integrasi RDMP Balikpapan dengan beberapa terminal di sekitar kilang, termasuk terminal Tanjung Batu, Lawe-Lawe, dan pipa dari Senipah.
Sebelumnya, Pertamina menargetkan proyek RDMP Balikpapan mulai beroperasi bulan ini. Namun, proyek tersebut belum dapat beroperasi dengan kapasitas penuh. Kapasitas unit distilasi minyak mentah (CDU) kilang akan ditingkatkan dari 260.000 barel per hari (bph) menjadi 360.000 bph, sehingga total kapasitas CDU Indonesia diharapkan meningkat dari 1,17 juta bph menjadi 1,26 juta bph pada akhir 2025.
KPI melaporkan bahwa proyek RDMP Balikpapan mendekati tahap finalisasi, dengan fase persiapan operasional unit RFCC yang sedang berlangsung. Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menyatakan bahwa unit RFCC baru di Kilang Balikpapan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2025, dengan kapasitas pengolahan hingga 90.000 bph. Teknologi RFCC memungkinkan peningkatan nilai tambah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi, seperti LPG, gasoline, dan propylene.
“Pengoperasian unit RFCC ini akan mendukung kemandirian energi nasional dengan menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi,” ungkap Milla dalam keterangan resmi akhir Agustus. RFCC Kilang Balikpapan akan menjadi unit RFCC terbesar milik Pertamina, melampaui kapasitas unit serupa di Kilang Cilacap yang beroperasi sejak 2015 dengan kapasitas 62.000 bph.
Meskipun demikian, BMI, lengan riset Fitch Solutions, memprediksi bahwa Indonesia masih akan sulit lepas dari ketergantungan impor migas, meskipun proyek RDMP Kilang Balikpapan beroperasi. Menurut BMI, ekspansi Kilang Balikpapan dan upaya pemerintah memacu produksi biofuel mungkin dapat mengubah pola perdagangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, tetapi ketergantungan pada impor akan tetap ada.
“Indonesia akan mengalami penambahan kapasitas kilang untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Pertamina berencana mengoperasikan proyek ekspansi kilang Balikpapan pada kuartal IV-2025,” jelas tim riset BMI. Namun, upaya ini terkendala oleh lambatnya penambahan kapasitas kilang dan kurangnya investasi asing. Ekspansi kapasitas kilang Indonesia terus tertinggal dari pertumbuhan permintaan, sehingga negara ini bergantung pada impor.
Pengoperasian unit RFCC di RDMP Balikpapan merupakan langkah strategis Pertamina untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri dan mendukung kemandirian energi nasional. Meskipun menghadapi tantangan ketergantungan impor, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kapasitas kilang dan efisiensi pengolahan minyak di Indonesia. Pertamina dan pihak terkait akan terus memantau perkembangan proyek ini untuk memastikan keberhasilannya dalam jangka panjang.
