PT Pertamina (Persero) menyambut baik langkah pengerahan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengamankan kilang minyak dan terminal bahan bakar minyak (BBM) milik perseroan. Menurut VP Corporate Communications Pertamina, Muhammad Baron, kehadiran TNI akan bersinergi dengan aparat penegak hukum lainnya serta pengamanan internal perusahaan. “Kami tentunya menyambut baik, ini juga akan bersinergi antara instansi, kemudian juga akan bersinergi dengan pengamanan internal kami,” ujar Baron dalam taklimat media di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).
Baron menjelaskan bahwa pengamanan kilang minyak dan terminal BBM dilakukan karena aset-aset tersebut termasuk dalam kategori objek vital nasional. “Selanjutnya juga penjagaan ini tentu bisa berdampak juga dalam proses Nataru kami. Jadi ini memperkuat lapisan pengamanan yang ada di dalam kilang-kilang ataupun objek strategis lainnya,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan penambahan batalion untuk mengamankan wilayah dan industri strategis yang berpengaruh terhadap kedaulatan negara. Salah satu industri strategis tersebut adalah kilang minyak dan terminal BBM Pertamina. Sjafrie menegaskan bahwa TNI akan melakukan operasi militer selain perang (OMSP) untuk mengamankan fasilitas milik Pertamina. Penjagaan ini akan dimulai pada Desember 2025. “Tugas-tugas pengamanan instalasi strategis, khususnya yang dimiliki oleh Pertamina, ini juga bagian dari OMSP, dan ada di dalam revisi, Undang-undang TNI yang 14 Pasal itu,” jelas Sjafrie di Kompleks Parlemen.
Selain itu, Sjafrie menambahkan bahwa Badan Intelijen Strategis akan memantau situasi untuk mengidentifikasi potensi ancaman yang mungkin muncul. “Juga akan dipantau oleh Badan Intelijen Strategis, untuk bisa mengetahui, hal-hal yang mungkin, perlu kita ketahui sebagai suatu ancaman yang potensial, yang mungkin muncul, sehingga kita bisa mengantisipasi, pengamanan secara fisik,” lanjutnya.
Sebagai catatan, anak usaha Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari. Kilang-kilang tersebut meliputi refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170 MBPOD, RU III Plaju berkapasitas 126 MBPOD, RU IV Cilacap berkapasitas 348 MBPOD, RU V Balikpapan berkapasitas 360 MBPOD, RU VI Balongan berkapasitas 150 MBPOD, dan RU VII Kasim berkapasitas 10 MBPOD. Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) saat ini mengoperasikan 231 terminal migas, termasuk 125 terminal BBM, 32 terminal gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), dan 74 depot pengisian pesawat udara (DPPU).
Dengan langkah pengamanan ini, diharapkan keamanan dan stabilitas operasional kilang minyak dan terminal BBM Pertamina dapat terjaga, mendukung kelancaran distribusi energi nasional.
