PT Timah Tbk. (TINS) terus melanjutkan rencana kerja sama strategisnya dengan Yunnan Tin Co. Ltd., raksasa timah dari Tiongkok. Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, mengonfirmasi bahwa tim dari Yunnan Tin baru-baru ini telah mengunjungi Indonesia, dan TINS berencana melakukan kunjungan balasan ke Tiongkok paling lambat bulan depan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi TINS di pasar global, mengingat Yunnan Tin menguasai sekitar 50% pasar timah dunia, sementara TINS memegang 13-15%. Melalui kerja sama ini, TINS berencana memanfaatkan teknologi penambangan mutakhir dari Yunnan Tin, serta berkolaborasi dalam berbagai aspek, termasuk pengembangan smelter, perdagangan internasional, dan pengembangan produk hilir.
Latar Belakang Kinerja TINS yang Menurun
Rencana ambisius ini datang di tengah laporan kinerja TINS yang kurang memuaskan pada semester I-2025. Perusahaan mencatat penurunan signifikan pada produksi dan penjualan:
- Produksi bijih timah anjlok 32% menjadi 6.997 ton.
- Penjualan logam timah turun 28% menjadi 5.983 ton.
- Produksi logam timah terkoreksi 29% menjadi 6.870 metrik ton.
Direktur Operasi dan Produksi TINS, Nur Adi Kuncoro, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya alat produksi, cuaca buruk, dan masalah perizinan di beberapa lokasi penambangan, seperti di Oliver, Briga, dan Laut Rias.
Di sisi lain, meskipun volume menurun, TINS berhasil mencatat kenaikan harga jual rata-rata logam timah sebesar 8% menjadi US$32.816 per metrik ton. Namun, secara finansial, pendapatan perusahaan turun 19% menjadi Rp4,2 triliun, dan laba bersih terkoreksi 31% menjadi Rp300 miliar.
