Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan stabil saat para trader menganalisis laporan peningkatan stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS) yang bersaing dengan kekhawatiran mengenai dampak sanksi baru yang akan dikenakan kepada Rusia.
Minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah US$61 per barel setelah mengalami kenaikan lebih dari 1% pada Selasa (18/11). Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati US$65 per barel. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor global.
American Petroleum Institute (API), sebuah lembaga yang didanai industri, melaporkan adanya peningkatan inventori minyak mentah AS sebesar 4,4 juta barel, disertai dengan kenaikan stok produk olahan. Jika data ini dikonfirmasi oleh laporan resmi pemerintah, maka total inventori minyak akan mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima bulan terakhir. Hal ini menambah tekanan pada harga minyak di pasar global.
Di sisi lain, sanksi baru dari AS terhadap produsen utama Rusia, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, dijadwalkan akan mulai berlaku dalam beberapa hari ke depan. Sanksi ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar mengakhiri konflik di Ukraina. Dampak dari sanksi ini diperkirakan akan mempengaruhi pasokan minyak global dan menambah ketidakpastian di pasar.
Menjelang batas waktu penerapan sanksi, beberapa pembeli utama di Asia telah menangguhkan sebagian pembelian mereka. Sementara itu, pasar diesel di Eropa menunjukkan penguatan. Sepanjang tahun ini, harga minyak telah kehilangan momentum, termasuk mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut hingga Oktober. Kekhawatiran bahwa pasokan global akan melebihi permintaan menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi harga.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan akan terjadi surplus pasokan minyak pada tahun depan, didorong oleh peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ serta negara-negara non-kartel. Sebagai tanda melimpahnya pasokan, jumlah minyak mentah yang diangkut menggunakan kapal tanker kembali mencapai titik tertinggi. Menurut Vortexa Ltd, hampir 1,4 miliar barel minyak diangkut menuju berbagai tujuan atau disimpan dalam penyimpanan terapung pekan lalu.
Harga minyak WTI untuk pengiriman Desember turun 0,2% menjadi US$60,62 per barel pada pukul 08:17 pagi waktu Singapura. Sementara itu, kontrak yang lebih aktif untuk Januari berada di US$60,51. Minyak Brent untuk penyelesaian Januari ditutup 1,1% lebih tinggi pada US$64,89 per barel pada hari Senin.
Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi pasar minyak saat ini, para trader dan analis terus memantau perkembangan terbaru untuk menentukan arah pergerakan harga di masa mendatang. Sanksi terhadap Rusia dan peningkatan stok minyak AS menjadi dua elemen kunci yang akan terus diperhatikan dalam beberapa waktu ke depan.
